Profil Gotabaya Rajapaksa, Presiden Sri Lanka yang Mundur Usai Krisis Ekonomi
Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Selasa, 12 Juli 2022
0 dilihat
Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa memutuskan mengundurkan diri usai negaranya alami krisis ekonomi. Foto: Repro AFP
" Gotabaya Rajapaksa lahir pada 20 Juni 1949. Ia dikenal sebagai seorang yang kerap memecah pendapat pengamat dunia perpolitikan "


JAKARTA, TELISIK.ID - Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa kini jadi buah bibir masyarakat dunia. Hal itu terjadi usai menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.
Dikutip dari sindonews.com, Gotabaya Rajapaksa telah mengumumkan dia akan mundur setelah pengunjuk rasa menyerbu kediaman resminya dan membakar rumah perdana menteri (PM). Pada saat itu, baik PM maupun presiden tidak berada di gedung.
Ratusan ribu orang turun ke Ibu Kota Kolombo, menyerukan Rajapaksa untuk mengundurkan diri setelah berbulan-bulan protes atas salah urus ekonomi.
Gotabaya Rajapaksa pun dikabarkan akan mengundurkan diri pada 13 Juli.
Lalu, siapakah Gotabaya Rajapaksa yang kini mengundurkan diri dari kepala negara Sri Lanka?
Melansir Suara.com - jaringan Telisik.id, berikut profil Gotabaya Rajapaksa:
Baca Juga: LM Rajab Jinik, Aktivis Kampus yang Jadi Anggota DPRD, Ingin Ubah Mindset Mahasiswa
Gotabaya Rajapaksa lahir pada 20 Juni 1949. Ia dikenal sebagai seorang yang kerap memecah pendapat pengamat dunia perpolitikan.
Selain itu, Presiden Gotabaya juga kerap dipuji oleh para pendukungnya karena memainkan peran penting dalam menumpas pemberontak separatis Macan Tamil dan telah mengakhiri perang saudara yang berlangsung lama di Sri Lanka pada tahun 2009 lalu saat dirinya menjabat menjadi seorang menteri pertahanan.
Di sisi lain, Presiden Gotabaya juga dituduh melakukan pelanggaran HAM dalam penumpasan tersebut. Namun, Presiden Gotabaya membantah tuduhan tersebut dengan tegas.
Kiprahnya di dunia politik negara tersebut, membuat ia tidak asing bagi masyarakat bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai seorang presiden.
Kiprah politik Gotabaya di Sri Lanka telah berlangsung sejak lama dan cukup menonjol di mata publik.
Sebelum menduduki kursi presiden, Gotabaya memangku jabatan sebagai seorang Menteri Pertahanan Sri Lanka di tahun 2005 lalu.
Latar belakang Gotabaya Rajapaksa diketahui berasal dari keluarga politik tersohor yang sangat berpengaruh di Sri Lanka.
Ayah Gotabaya merupakan seorang anggota parlemen dan menteri kabinet. Kakak laki-lakinya, Mahinda, merupakan Presiden Sri Lanka dua kali dan dua saudara lelaki lainnya memegang posisi tinggi di pemerintahan sebelumnya.
Saat Gotabaya menjabat sebagai seorang presiden, Mahinda menjabat sebagai seorang Perdana Menteri Sri Lanka. Tidak hanya itu, Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian juga merupakan saudara dari Presiden Gotabaya, dan keponakannya menjabat sebagai Menteri Olahraga.
Di tahun 1971, Gotabaya bergabung dengan tentara. Gotabaya berlatih di Akademi Militer Sri Lanka (SLMA). Selama 20 tahun dirinya menjalani profesi sebagai tentara, Gotabaya kemudian naik pangkat. Ia bahkan menerima sejumlah penghargaan untuk kegagahannya.
Di tahun 1998, putra kelima dari 9 bersaudara tersebut beserta keluarga pindah ke Amerika Serikat, lalu pindah kembali pada tahun 2005.
Pada tahun tersebut, Mahinda yang merupakan kakak laki-lakinya menjadi seorang presiden. Di bawah pemerintahan Mahinda, Gotabaya diangkat menjadi menteri pertahanan.
Baca Juga: Mengenal Sosok Pelatih Pertama Timnas Indonesia Era Penjajahan Belanda
Kedua saudara tersebut mengawasi operasi militer yang mengakhiri konflik separatis Tamil di tahun 2009. Konflik tersebut telah berlangsung lebih dari 25 tahun dan diperkirakan telah merenggut sekitar 100.000 jiwa.
Berakhirnya konflik tersebut menjadi momen yang dirayakan oleh sebagian besar warga Sri Lanka, tetapi PBB menuduh kedua belah pihak melakukan kekejaman, terutama selama tahap konflik perang pada tahun 2009.
Sebelum menjamahkan kakinya pada pemilu presiden pada bulan November 2019 lalu, Gotabaya menjabat sebagai ketua organisasi Viyathmaga.
Organisasi tersebut memiliki tujuan tertentu di mana salah satunya adalah untuk mendukung pembangunan ekonomi Sri Lanka. (C)
Penulis: Fitrah Nugraha
Editor: Haerani Hambali