Ratusan Warga Meriahkan Pawai Padamara Kande Yi Sora di Kota Baubau

Elfinasari, telisik indonesia
Minggu, 28 Juni 2026
0 dilihat
Ratusan Warga Meriahkan Pawai Padamara Kande Yi Sora di Kota Baubau
Ratusan warga saat memadati lokasi saat menyaksikan karya pertunjukan kolaboratif seniman residensi Kandi Yi Sora oleh Studio Patodongi (Fadilla Umma Syam dan Mutmainnah) dari Makassar, Reno Izhar dari Manggar, Belitung Timur, dan Dianyuniastu dari Bali. Foto: Elfinasari/Telisik

" Ratusan warga memadati Pawai Padamara dalam rangka pertunjukan seni budaya bertajuk Kande Yi Sora "

BAUBAU, TELISIK.ID - Ratusan warga memadati Pawai Padamara dalam rangka pertunjukan seni budaya bertajuk Kande Yi Sora yang digelar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi tiga seniman residensi dari Bali, Bangka Belitung, dan Makassar sebagai upaya menghidupkan kembali ruang publik serta situs bersejarah di kawasan Sorawolio.

Program tersebut didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Proyek ini diproduseri oleh Harni Sumatan sebagai penerima hibah Dana Indonesiana kategori pendayagunaan ruang publik.

Kande Yi Sora merupakan inisiatif seni lintas disiplin yang bertujuan mengaktivasi kembali dua situs bersejarah di Sorawolio, yaitu Bak Air Palatiga dan Benteng Sorawolio. Bak Air Palatiga menjadi simbol ruang domestik, solidaritas perempuan, serta ekologi air, sedangkan Benteng Sorawolio melambangkan pertahanan komunal peninggalan Kesultanan Buton.

Bekerja sama dengan Teater Sora, pertunjukan ini mengangkat tema politik tanam paksa pada masa kolonial Belanda, narasi lisan masyarakat mengenai Bak Air Palatiga, penampilan tiga seniman residensi, serta aksi teatrikal para ibu yang memasak. Tradisi Pekande-Kandea juga dihadirkan kembali dengan menempatkan para ibu sebagai subjek utama dalam pertunjukan.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari, pada 27–28 Juni 2026. Hari pertama diawali dengan penampilan Studio Patodongi, dilanjutkan arak-arakan Pawai Padamara sejauh sekitar 1,1 kilometer dari Benteng Sorawolio menuju Bak Air Palatiga, kemudian ditutup dengan pertunjukan seni kolaboratif.

Pada hari kedua, masyarakat mengikuti pemutaran film dokumenter sejarah, walking tour mengenal Kampung Palatiga, permainan tradisional, pertunjukan bakat warga, hingga makan bersama.

Baca Juga: Pawai Padamara Baubau Kembali Hadir, Tampilkan Seniman Bali, Bangka Belitung dan Makassar

Produser sekaligus Kepala Program, Harni Sumatan, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai ruang nostalgia sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Harni, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Warga hadir mengenakan kostum terbaik dan ikut berjalan bersama dalam Pawai Padamara. Pertunjukan kolaboratif tersebut melibatkan Studio Patodongi yang terdiri atas Fadilla Umma Syam dan Mutmainnah dari Makassar, Reno Izhar dari Manggar, Belitung Timur, serta Dianyuniastu dari Bali.

Harni menambahkan, kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, di antaranya warga Palatiga, Karang Taruna BWI, Kecamatan Wolio, perangkat Kelurahan BWI, pengurus Masjid Sorawolio, hingga Komunitas Benteng Sorawolio. Pemerintah Kota Baubau juga memberikan dukungan melalui kehadiran Asisten II Sekretariat Daerah. Ratusan warga tampak memadati lokasi acara untuk memeriahkan kegiatan tersebut.

Salah seorang warga, Deva mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan telah beberapa kali mengikuti Pawai Padamara.

"Acaranya seru karena ada pertunjukan teater. Dulu saya pernah ikut sebagai penari, tetapi tahun ini hanya menjadi penonton," ujarnya.

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menghadirkan pameran arsip warga yang menampilkan dokumen dan foto-foto bersejarah hasil koleksi masyarakat. Pameran tersebut menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif sekaligus memperkenalkan sejarah Kampung Palatiga kepada para pengunjung.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Asisten II) Kota Baubau, Dahrul Dahlan, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang digagas oleh para pemuda Kota Baubau. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang menjadi agenda budaya yang mampu memperkuat pelestarian seni dan budaya daerah.

Baca Juga: Kejuaraan Road Race Siap Meriahkan HUT ke-67 Muna, Hadiah Utama Sepeda Motor

Menurutnya, ke depan Karang Taruna BWI diharapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Seniman Bunyi asal Manggar, Belitung Timur, Reno Izhar menjelaskan, karya pertunjukan tersebut bertujuan membangkitkan kembali memori kolektif dan pengalaman tubuh perempuan Palatiga yang berkaitan dengan situs Bak Air Palatiga yang menyimpan sejarah panjang kolonial.

Ia menggabungkan laku tubuh Asabumo, tekstur elektronik (soundscape), serta instrumen baru bernama Tobedu yang terinspirasi dari semiotika Sambunauwe.

"Komposisi bunyi ini membangkitkan imajinasi melalui distraksi sonik yang lekat dengan masyarakat Palatiga, serta mereplikasi ritual menaikkan debit air dengan hewan kurban yang dihadirkan melalui estetika visual air dalam tembikar," jelas Reno. (A)

Penulis: Elfinasari

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga