Sosok Destry Damayanti Dicalonkan Prabowo jadi Gubernur BI, Disorot Media Asing Rupiah Langsung Perkasa

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 12 Agustus 2026
0 dilihat
Sosok Destry Damayanti Dicalonkan Prabowo jadi Gubernur BI, Disorot Media Asing Rupiah Langsung Perkasa
Destry Damayanti, calon tunggal Gubernur Bank Indonesia yang diajukan Presiden Prabowo Subianto kepada DPR. Foto: Repro Pasardana

" Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI oleh Prabowo mendapat respons positif pasar "

JAKARTA, TELISIK.ID - Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI oleh Prabowo mendapat respons positif pasar setelah rupiah menguat ke level tertinggi sejak 18 Juni 2026.

Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR.

Juru Bicara Presiden Prasetyo Hadi mengonfirmasi pengajuan tersebut pada Senin 10 Agustus 2026. Selain Destry, Presiden juga menyerahkan nama calon anggota Dewan Gubernur BI lainnya, termasuk untuk posisi Deputi Gubernur Senior.

Pencalonan Destry berlangsung setelah Gubernur BI sebelumnya, Perry Warjiyo, mengundurkan diri pada akhir Juli 2026 dengan alasan pribadi. Sejak saat itu, Destry menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas atau Plt Gubernur BI.

Reuters kemudian menyoroti pencalonan Destry dan respons pasar terhadap keputusan Prabowo tersebut. Media asing itu melaporkan nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan hingga mencapai level tertinggi terhadap dolar Amerika Serikat sejak 18 Juni 2026.

Jika disetujui DPR, Destry akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia secara permanen.

DPR memiliki waktu satu bulan untuk menyetujui atau menolak pencalonan tersebut. Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip Reuters, DPR tidak pernah menolak calon Gubernur BI yang diajukan presiden yang sedang menjabat sejak 2008.

Rupiah Menguat

Melansir dari Kompas, Rabu (12/8/2026), sebelumnya, pasar dan investor mencermati proses transisi kepemimpinan BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Pergantian tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan arah kebijakan moneter dan kondisi pasar keuangan.

Baca Juga: Profil Norman Joesoef, Bos Muda Republikorp Disebut Isi Kursi Wamenhan RI

Sejumlah isu yang menjadi perhatian pasar antara lain kelonggaran fiskal, independensi bank sentral, transparansi pasar modal, serta dampak konflik militer Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Ekonom DBS Radhika Rao menilai pencalonan Destry kemungkinan diterima dengan baik oleh pasar karena pengalaman panjangnya di bank sentral dan pasar keuangan domestik.

"Pencalonan Destry kemungkinan besar akan diterima dengan baik oleh pasar, mengingat pengalamannya yang luas di bank sentral maupun pasar keuangan domestik," kata Rao.

Rao juga menilai kepemimpinan Destry dapat memberikan kesinambungan kebijakan moneter.

"Ia secara eksplisit menekankan perlunya menstabilkan mata uang dan diperkirakan akan mencerminkan keberlanjutan kebijakan," ujarnya.

Rekam Jejak Destry Damayanti

Destry memiliki pengalaman panjang di sektor ekonomi dan keuangan. Ia mengawali karier sebagai ekonom dan pernah bekerja di institusi keuangan global Citibank serta Bank Mandiri.

Destry kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS periode 2015–2019 sebelum bergabung dengan jajaran pimpinan Bank Indonesia.

Ia merupakan lulusan Universitas Indonesia dan memperoleh gelar master dari Cornell University.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai Destry memiliki pemahaman yang kuat terhadap dinamika pasar moneter.

"Ia memahami pasar keuangan dengan sangat baik, sehingga sikap kebijakannya cenderung mencerminkan keseimbangan antara inflasi, stabilitas rupiah, arus modal, dan transmisi kebijakan moneter ke ekonomi domestik," kata Fakhrul.

Tantangan Independensi BI

Di tengah pencalonan Destry, independensi Bank Indonesia menjadi salah satu isu yang turut mendapat perhatian pasar.

Pada tahun ini, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin, menata insentif lindung nilai rupiah, serta memanfaatkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI dengan imbal hasil tinggi untuk menarik aliran modal asing.

BI juga menghadapi tuntutan untuk mendukung sejumlah program prioritas pemerintahan Prabowo guna mendorong pertumbuhan ekonomi menuju target 8 persen dari posisi saat ini yang berada di kisaran 5 persen.

Mantan Gubernur BI sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sempat berbeda pandangan dengan BI terkait kebijakan likuiditas.

Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan penggunaan instrumen SRBI oleh BI serta pengelolaan cadangan kas pemerintah di bank komersial.

Pada awal Agustus 2026, dalam konferensi pers bersama Purbaya, Destry menyampaikan sejumlah langkah untuk mengatasi ketimpangan distribusi likuiditas antarbank agar perbankan lebih aktif menyalurkan kredit.

Baca Juga: Sosok Setya Novanto Koruptor e-KTP dan Kasus Papa Minta Saham, Viral Rayakan Pesta Mewah Tema BTS Bareng Istri

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan tantangan terhadap otonomi dan independensi BI akan terlihat setelah Destry mendapatkan persetujuan DPR.

"Destry dinilai memiliki hubungan kerja yang kuat dengan pemerintah dan Menteri Keuangan. Meskipun hal itu dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi gesekan antara kebijakan fiskal dan moneter, pasar akan menarik garis tegas antara koordinasi dan subordinasi," ujar Josua.

Ia mengingatkan, premi risiko investasi dapat meningkat apabila BI terlalu cepat menurunkan suku bunga acuan atau menyediakan likuiditas semata-mata untuk mendanai agenda fiskal pemerintah.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur BI terdekat dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Agustus 2026.

Hingga kini, belum dipastikan apakah Gubernur BI baru akan menjalankan masa jabatan penuh selama lima tahun atau melanjutkan sisa masa jabatan Perry Warjiyo yang berakhir pada 2028. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga