adplus-dvertising

Sering Dikira Pengemis, Pedagang Ini Pernah Diusir Satpol PP

Nadwa Rifada, telisik indonesia
Sabtu, 23 April 2022
565 dilihat
Sering Dikira Pengemis, Pedagang Ini Pernah Diusir Satpol PP
Mitra sedang berdiri dipinggir jalan sambil menenteng barang daganganya, tissu dan kerupuk opak. Ia mengenakan topi dan masker untuk melindungi wajahnya dari panas terik matahari. Foto : Nadwa Rifada/Telisik

" Menuntut dan mengeluh tidak akan membuat kehidupan menjadi lebih baik. Cara terbaik menjalani hidup salah satunya dengan menumbuhkan harapan agar seseorang tidak akan merasa putus asa "

KENDARI, TELISIK.ID - Kehidupan yang baik tidak selalu menyenangkan. Kadangkala takdir membawa perjalanan hidup seseorang melewati masa suka maupun duka. Maka setiap orang pasti akan melaluinya. Namun satu hal yang membedakan, setiap orang akan menjalani ujiannya masing-masing.

Tak ada seorangpun yang menginginkan hidup dalam kekurangan. menuntut dan mengeluh tidak akan membuat kehidupan menjadi lebih baik. cara terbaik menjalani hidup salah satunya dengan menumbuhkan harapan agar seseorang tidak akan merasa putus asa.  

Seperti kehidupan Mitra (30) yang penuh dengan harapan. Dalam kesehariannya ia adalah seorang pedagang yang selalu mangkal di pinggir jalan lampu merah.


Setiap hari Mitra keluar rumah sambil menenteng tissu dan kerupuk opak sambil duduk di sisi jalan raya. Saat lampu merah menyala, mobil dan kendaraan lain yang berhenti akan dihampiri Mitra untuk menawarkan dagangannya.

Adakalanya pemilik kendaraan membeli  dagangan Mitra karena butuh, namun seringkali ada yang membeli sekedar karena kasihan melihatnya berkeliling menghampiri setiap kendaraan yang berhenti. Bahkan ada yang secara cuma-cuma memberikan uang kepadanya karena merasa iba.

Baca Juga: Tak Beralas Kaki, Pemulung Ini Tiap Hari Menyusuri Jalan Raya

Mengenakan topi yang warnanya sudah kusam dimakan waktu, Mitra melindungi wajahnya dari panas terik matahari. Dengan penghasilan dagang yang tidak seberapa ia tetap mampu menjalani hidup dengan penuh harapan.

Ketika orang lain bingung memikirkan kehidupan yang semakin sulit, Mitra memilih untuk menjadi pedagang. Tissu yang dibelinya seharaga Rp10.000 kembali dijualnya dengan harga Rp15.000. sedangkan opak, dibikinnya sendiri. Bahan kerupuk satu ikat berisi 10 lembar seharga Rp 3000 ia goreng sendiri, gulanya juga dibuat sendiri. sehingga nilai jual saat ditawarkan ke setiap pengendara menjadi lebih tinggi.

Mitra menggeluti pekerjaannya berdagang di lampu merah sejak 6 tahun lalu hingga sekarang. Ia tinggal bersama suaminya, Abdurrahman (40) dan 2 orang anaknya, Fitri kelas 3 SD dan Hazira 5 tahun. Meski memiliki suami yang sering sakit-sakitan sehingga tidak mampu lagi bekerja, ia tidak pantang menyerah.

Mitra juga mengungkapkan, dirinya pernah diusir Satpol PP karena dilarang menjual.

"Biasa Satpol PP melarang menjual di jalan. Dilarang, karena biasa ada anak-anak ngemis dikira anak saya nanti ditabrak mobil. Kalau anak-anak dilarang kita juga dilarang," tuturnya, Sabtu (23/4/2022).

Hal yang disayangkan oleh Mitra adalah kenapa dirinya harus di usir padahal ia hanya ingin berdagang, bukan mengemis. Jika disuruh berdagang di pasar dia juga tidak memiliki tempat, terlebih lagi kebanyakan tujuan pembeli ke pasar untuk membeli makanan pokok bukan membeli tissu atau opak. Dan kalau pun harus diusir Mitra berharap diberi sarana atau sedikit bantuan untuk membantu. Sebab yang menanggung bebannya hidup adalah ia bukan orang lain. Seharusnya mereka merasakan itu dan mengerti.

Baca Juga: Putus Sekolah dan Merantau Sejak SMP Demi Bertahan Hidup

Selama ini Mitra mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dari dagang tissu dan opak yang selama bertahun-tahun dijalaninya. Hasil perharinya tidaklah seberapa, namun bisa terus membuatnya bersyukur dan tidak putus asa.

Ia bahkan mengingat, jika dahulu di awal berdagang ia sama sekali tidak memiliki rumah untuk bernaung. Namun karena ia percaya pada harapan dan tidak menyerah pada keadaan, Setelah sekian lama, sekarang Mitra memiliki tempat tinggal dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. (A)

Reporter: Nadwa Rifada

Editor: Kardin

Baca Juga