Siswa SDN 80 Kendari Dibully Secara Fisik Dua Tahun, Sekolah Mengaku Tak Tahu

Erni Yanti, telisik indonesia
Kamis, 15 Agustus 2024
651 dilihat
Siswa SDN 80 Kendari Dibully Secara Fisik Dua Tahun, Sekolah Mengaku Tak Tahu
Seorang siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 80 Kendari berinisial Ar (10) dibully oleh beberapa teman kelasnya selama dua tahun, tak diperhatian oleh sekolah. Foto Erni Yanti/Telisik

" Seorang siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 80 Kendari berinisial Ar (10) dibully oleh beberapa teman kelasnya selama dua tahun. Dia sempat merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya dan tidak masuk sekolah "

KENDARI, TELISIK.ID - Seorang siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 80 Kendari berinisial Ar (10) dibully oleh beberapa teman kelasnya selama dua tahun. Dia sempat merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya dan tidak masuk sekolah.

Saat ditemui telisik.id di rumahnya, Kamis (15/9/2024), Ar menceritakan kejadian bully yang dialami di sekolah oleh beberapa temannya. Dia, didampingi ibungnya, Wa Yeni, berusaha menuturkan kejadian yang dialaminya dengan wajah tertekan sambil mengeluarkan air mata.

Selama dua tahun, sejak kelas dua sampai kini duduk di kelas empat, Ar mengaku dibully oleh teman kelasnya dengan kekerasan fisik, mulai dari ditendang, didorong, hingga tangannya yang ditarik-tarik.

Hampir setiap hari Ar menangis dan merasa ketakutan. Pada tahun 2023, Ar menerima bullyan hingga mentalnya terganggu dan enggan untuk ke sekolah. Dia sempat jatuh sakit selama dua bulan karena kekerasan fisik yang diterima dari beberapa teman sekelasnya.

Baca Juga: Sidang Pembunuhan Mertua: Keluarga Korban Emosi dan Kejar Novi Sebelum Dimasukkan ke Mobil Tahanan

“Saya masih duduk-duduk tiba-tiba saya ditendang, ditarik juga tanganku sampai sakit-sakit badanku, saya tidak apa-apakan mereka,” tutur Ar dengan mata berkaca-kaca.

Ar mengaku pernah berupaya membalas. Namun karena ia sendiri dan yang dihadapi beberapa orang sehingga ia tidak kuat melakukan perlawanan.

Ar mengatakan, pernah sekali waktu didapati salah seorang guru saat terjadi aksi bully dan Ar berupaya membalas, namun dirinya yang dimarahi karena anak yang melakukan bully diketahui sebagai kerabat guru tersebut.

Saat Ar di kelas tiga, bullyan yang diterimanya tidak berhenti dan hingga kekerasan fisik dari teman-temannya. Ar sudah sering mengadukan bully yang diterimanya kepada sang ibu.

“Sempat saya tidak percaya, sampai saya emosi dia mengadu terus, karena saya kira hanya sekadar main-main sesama anak-anak saja,” kata Yeni.

Namun, setelah jatuh sakit dan selama ia tidak mengadu ke orangtuanya, Ar mengadukan bully yang dialaminya kepada sang bibi.

Sejak mengetahui kejadian itu dan Ar sering mengadukan hal yang sama, Yeni kemudian mendatangi sekolah. Dia meminta pihak sekolah menangani bully yang diterimanya Ar dari teman-temannya. “Namun sekolah tak memberi tanggapan serius,” keluh Yeni.

Karena tidak mendapat tanggapan serius dari pihak sekolah, Yeni selanjutnya menyampaikan kejadian yang dialami putranya itu di grup WhatsApp para guru dan orangtua murid. Seorang guru yang juga wali kelas Ar di kelas tiga menanggapi keluhan Yeni.

“Ditanggapi guru kelas tiga-nya dan marah-marah di pesan WhatsApp grup, katanya anak saya yang bermasalah dan kalau saya tidak terima anak saya yang dipindahkan,” tutur Yeni dengan heran.

Yeni berharap pengaduan yang disampaikan seharusnya ditanggapi secara positif dan diberitahu juga secara baik-baik kepada Ar.

Setelah menyampaikan aduannya melalui pesan di grup WhatsApp guru dan orangtua murid, Yeni mengaku menerima keluhan yang sama dari orangtua murid lainnya. Orangtua murid itu, kata Yeni, mengeluh anaknya juga sering dibully di sekolah namun takut untuk membuka suara.

“Ada juga chat WhatsApp dari orangtua siswa yang lain, anaknya (bisa) bicara. Kalau anakku Ar memang sering menangis di sekolah karena dibully,” kata Yeni.

Pesan-pesan WhatsApp grup dan pribadi yang diterima Yeni itu masih disimpan dan dia sempat memperlihatkan kepada telisik.id.

Sementara itu, salah seorang guru Wali Kelas Ar, Rosmiati, saat ditanyai terkait bully yang dialami muridnya, berkilah tidak mengetahui. Namun, dia mengatakan orangtua Ar pernah menyampaikan dalam grup WhatsApp bahwa anaknya dibully dari kelas dua sampai sekarang.

Baca Juga: Dinas PMD Sulawesi Tenggara Semarakkan HUT ke-79 RI dengan Berbagai Lomba

Rosmiati meminta kepada orangtua Ar agar kejadian seperti itu tidak didiamkan dan segera disampaikan kepada guru atau pihak sekolah.

“Selama kelas empat ini saya tidak liat pembullyan. Saya tanya juga anak-anak dalam kelas tidak ada yang mengaku, tapi anak ini (Ar, red) anaknya pendiam. Saya kaget juga waktu dia cerita orangtuanya dari kelas dua, kelas tiga dan beberapa waktu lalu dibully,” kata Rosmiati.

Rosmiati mengatakan, jika di sekolah dirinya selalu berada di dalam ruang kelas empat (kelas Ar), kecuali ada guru mata pelajaran lain barulah ia ke ruang kantor. Rosmiati mengaku tidak pernah menemukan Ar dibully oleh teman-temannya.

Kendati begitu, Rosmiati berjanji akan semakin memperhatikan murid-muridnya. (A)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga