Teror Hantu Songko Urban Legend Sulawesi Masuk Layar Lebar, Sosok Seram Haus Energi Kehidupan Gadis Muda
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 07 Mei 2026
0 dilihat
Hantu Songko dari Sulawesi kembali diperbincangkan setelah kisah teror berjubah hitam muncul di layar bioskop nasional. Foto: Repro Cinema21
" Kabut pegunungan Minahasa, stigma masyarakat desa, dan sosok berjubah hitam berpadu menghadirkan atmosfer mencekam dalam film horor Songko yang mulai tayang nasional sejak April 2026 "

MINAHASA, TELISIK.ID - Kabut pegunungan Minahasa, stigma masyarakat desa, dan sosok berjubah hitam berpadu menghadirkan atmosfer mencekam dalam film horor Songko yang mulai tayang nasional sejak April 2026.
Film horor Indonesia kembali menghadirkan eksplorasi cerita rakyat Nusantara melalui film Songko. Karya terbaru sutradara Gerald Mamahit itu mengangkat urban legend masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, yang selama ini dikenal melalui cerita turun-temurun tentang sosok misterius berjubah hitam.
Film berdurasi sekitar 108 menit tersebut mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 23 April 2026. Kehadirannya menambah daftar film horor lokal yang mengangkat mitologi daerah sebagai fondasi utama cerita, setelah sebelumnya genre serupa lebih banyak didominasi kisah mistis dari Pulau Jawa.
Berbeda dari pola horor yang menitikberatkan pada efek kejut, Songko bergerak perlahan membangun suasana. Ketegangan muncul melalui relasi antarwarga desa, rasa takut terhadap kutukan, hingga tekanan sosial yang dialami keluarga tokoh utama.
Latar Minahasa Tahun 1986 jadi Pondasi Cerita
Melansir dari suara.com jaringan telisik.id, Kamis (7/5/2026), cerita dalam Songko mengambil latar sebuah desa terpencil di wilayah Minahasa pada tahun 1986. Situasi desa yang terisolasi menjadi bagian penting dalam membangun nuansa cerita. Jalan tanah, rumah kayu, hingga suasana hutan berkabut memperkuat kesan keterasingan yang terus mengikuti perjalanan tokoh utama.
Tokoh Mikha yang diperankan Annette Edoarda menjadi pusat cerita. Ia digambarkan hidup bersama ibu tirinya, Helsye, yang diperankan Imelda Therinne.
Kehidupan keluarga tersebut berubah ketika warga desa menuduh Helsye sebagai Songko, entitas gaib yang dipercaya mengincar gadis-gadis muda untuk diambil energinya. Tuduhan itu memicu pengusiran terhadap keluarga Mikha dan memunculkan konflik yang berkembang sepanjang cerita.
Narasi film kemudian bergerak pada dua kemungkinan berbeda. Di satu sisi, Helsye dianggap benar-benar memiliki hubungan dengan kekuatan gaib. Di sisi lain, muncul dugaan bahwa ketakutan masyarakat justru menciptakan teror baru yang lebih berbahaya.
Baca Juga: Cerita Kelam Perlintasan Kereta Api Kerap Dikaitkan Peristiwa Horor, Ada Sosok Wanita Badan Tak Utuh
Teror Sosial jadi Bagian Penting Film
Selain menghadirkan elemen supranatural, Songko juga menampilkan gambaran tentang tekanan sosial dalam komunitas kecil. Ketakutan warga desa terhadap mitos berkembang menjadi stigma yang memengaruhi kehidupan seseorang.
Pengusiran keluarga Mikha menjadi salah satu bagian penting dalam cerita. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana prasangka dapat berkembang menjadi tindakan kolektif yang merugikan pihak tertentu.
Film ini tidak hanya menempatkan sosok gaib sebagai sumber ketakutan. Ancaman justru muncul dari hubungan antarmanusia yang dipenuhi kecurigaan serta rasa takut terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami.
Pendekatan seperti itu membuat Songko bergerak sebagai film horor psikologis dengan nuansa thriller keluarga. Konflik emosional antartokoh mendapat porsi cukup besar sebelum cerita memasuki fase teror yang lebih intens.
Visual Alam Sulawesi Utara Perkuat Atmosfer
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di kawasan Manado dan Tomohon. Lanskap pegunungan, hutan, serta permukiman desa menjadi bagian penting dalam membangun suasana visual film.
Palet warna yang cenderung gelap dan earthy digunakan untuk menyesuaikan latar tahun 1980-an. Penggunaan pencahayaan minim pada sejumlah adegan malam memperkuat kesan sunyi dan terisolasi.
Selain visual, desain suara menjadi elemen lain yang cukup dominan. Bunyi langkah di tanah basah, hembusan angin hutan, hingga suara jubah Songko dimanfaatkan untuk membangun ketegangan secara perlahan.
Pendekatan tersebut membuat film tidak bergantung penuh pada kemunculan hantu secara tiba-tiba. Atmosfer menjadi alat utama untuk menjaga rasa cemas penonton sepanjang cerita berlangsung.
Karakter Dibangun Lewat Konflik Emosional
Karakter Mikha tampil sebagai remaja yang berada di tengah tekanan sosial dan konflik keluarga. Ia harus menghadapi situasi ketika masyarakat mulai menjauhi keluarganya karena tuduhan yang berkembang di desa.
Sementara itu, karakter Helsye dibangun dengan pendekatan ambigu. Film tidak langsung memberikan jawaban mengenai keterlibatannya dengan sosok Songko. Situasi tersebut membuat penonton terus mempertanyakan posisi karakter tersebut hingga akhir cerita.
Pembangunan karakter menjadi salah satu fokus utama film. Dialog antartokoh digunakan untuk memperlihatkan hubungan keluarga, rasa takut, serta tekanan psikologis yang berkembang di lingkungan desa.
Pendekatan ini membuat Songko lebih banyak bergerak melalui suasana dan konflik emosional dibandingkan aksi horor yang agresif sejak awal.
Urban Legend Minahasa Hadir sebagai Warna Baru Horor Indonesia
Baca Juga: Cerita Horor Dukun Pengganda Uang Habisi 12 Nyawa Pasien, Dieksekusi Ritual Malam Hari
Kehadiran Songko memperlihatkan upaya sineas Indonesia mengeksplorasi cerita rakyat dari wilayah di luar arus utama perfilman horor nasional. Legenda Minahasa yang diangkat dalam film ini memberikan warna berbeda dibanding tema kutukan atau ritual yang selama beberapa tahun terakhir mendominasi layar bioskop.
Detail budaya lokal juga dimasukkan melalui dialog, kepercayaan masyarakat, hingga kebiasaan warga desa yang tampil sepanjang cerita. Unsur tersebut memperkuat identitas film sebagai karya yang berangkat dari akar budaya Sulawesi Utara.
Film Songko kini tayang di sejumlah jaringan bioskop nasional, termasuk Cinema XXI, CGV Cinemas, Cinépolis, Platinum Cineplex, serta New Star Cineplex.
Melalui pendekatan atmosferik dan eksplorasi legenda daerah, Songko menjadi salah satu film horor Indonesia yang menempatkan budaya lokal sebagai inti cerita, bukan sekadar latar pelengkap. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS