adplus-dvertising

Wow, Janda Bolong Saingi Harga Mobil

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Rabu, 30 September 2020
3605 dilihat
Wow, Janda Bolong Saingi Harga Mobil
Tanaman hias janda bolong yang mendadak digemari dan dibanderol cukup mahal. Foto: Repro Google.com

" Terkhusus pada jenis Variegata ini yang memiliki warna unik pada daun yaitu hijau putih, maka tidak heran dapat bernilai julai tinggi. "

KENDARI, TELISIK.ID - Saat ini ada fenomena unik, dimana mahalnya jenis tanaman hias bernama Monstera Adansonii Variegated alias janda bolong.

Jenis satu ini memang istimewa, spektakuler dan bombastis karena harganya terus menanjak.

Nama monstera sendiri berasal dari bahasa latin yaitu monstrous atau berarti abnormal. Itu karena bentuk daun monstera yang tidak seperti daun normal pada umumnya, ada robekan dan lubang di daunnya.


Justru lubang-lubang pada daun janda bolong ini yang bikin istimewa. Berdasarkan varietasnya, monstera dapat dibagi menjadi dua yaitu berdaun hijau dan variegata.

Varietas yang kedua ini yang tengah jadi buruan dan harganya menggila. Jika janda bolong umumnya mempunyai daun warna hijau, variegata mempunyai dua kombinasi warna. Ada yang hijau dengan kuning dan kadang hijau dengan putih.

Monstera variegate inilah yang kini jadi buah bibir pada pecinta tenaman hias. Dengan bentuk daun yang unik dengan lubang-lubang atau sobekan menjadi daya tarik sendiri bagi pecinta tanaman.

Selain itu, dilansir dari lamongantoday.com, janda bolong bisa dijual per daun. Harganya fantastis mencapai Rp 15 juta per lembarnya. Sungguh harga yang mahal untuk sebuah tanaman hias.

Harga mahal menurut kebanyakan orang cukup wajar mengingat varietasnya yang langka. Tanaman yang memiliki nama latin monstera adansonii variegated dari family araceae itu seolah menjadi rising star.

Dikutip dari laman klikhijau, ada dua jenis monstera yaitu adansonii dan epioremiodes. Adansonii memiliki ciri khas antara lain: daun lebih oval, warna Hijau tua dan bolongnya lebih kecil.

Baca juga: Kendari Undercover: Tunggu Pelanggan, Wanita Ini Nginap di Hotel Berhari-hari

Sedangkan, epipremiodes bercorak daun panjang, warna daun hijau muda dan bolong daunnya lebih banyak dan besar.

Harganya kini memang bisa mencapai ratusan juta. Bahkan, untuk janda bolong berukuran kecil saja, harganya mencapai Rp 6 jutaan.

Lalu, jika ukurannya sudah cukup besar, tanaman hias ini akan dihargai per helai daun.

Fenomena serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu saat tanaman Anthurium menduduki harga yang tak kalah mahal.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Syariful Mubarok mengatakan, tanaman hias berdaun indah ini termasuk dalam Familia Aracae.

Syariful mengungkapkan, bentuk tanaman Monstera ini memiliki keindahan pada daunnya yang memiliki lubang.

“Terkhusus pada jenis Variegata ini yang memiliki warna unik pada daun yaitu hijau putih, maka tidak heran dapat bernilai julai tinggi," kata Syariful seperti dikutip dari laman resmi unpad.ac.id, Rabu (29/9/2020).

Melambungnya harga tanaman ini diakuinya, bukan karena teknik budidaya yang sulit.

Baca juga: Kendari Undercover: Cerita Mantan Juru Parkir dan Sebuah Kost Penuh Lendir

Menurut dia, nilai jual janda bolong yang mencapai ratusan juta saat ini merupakan bentuk dari permainan harga semata.

“Ini hanya sebatas dari permainan dagang atau harga untuk tanaman hias,” kata Syariful.

Jika dilihat dari budidayanya, kata dia, tidak ada cara khusus untuk merawatnya. Yang perlu diperhatikan hanya penyiraman, pemupukan, serta pengendalian hama penyakit.

Ia lalu melihat, ramainya tanaman hias monstera ini memiliki sisi baik dan buruk. Untuk segi baiknya, nilai ekonomis semua jenis tanaman meningkat.

Harga tanaman jenis lain yang berdaun indah ikut naik, dan terbukti saat ini harga tanaman hias seperti anggrek, aglaonema, anthurium, caladium ikut meningkat.

Dengan viralnya monstera menjadikan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan guna budidaya tanaman hias.

Namun segi buruk dari adanya fenomena ini ialah harga yang kemungkinan akan turun drastis.

Hal tersebut disebabkan mulai banyaknya yang membudidayakan tanaman serupa, sehingga pada akhirnya tidak memiliki nilai ekonomis lagi.

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga