Belajar di Indonesia, Sosok Wanita Ini jadi PSK Terkaya Dunia
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 07 Juni 2026
0 dilihat
Belajar di Indonesia mengubah hidup Margaretha Zelle hingga menjadi Mata Hari di Eropa. Foto: Repro Wikipedia
" Penari eksotis yang kemudian dikenal di kalangan elite Eropa dan pejabat dunia "

JAKARTA, TELISIK.ID - Belajar di Indonesia mengubah hidup Margaretha Zelle hingga menjadi Mata Hari, penari eksotis yang kemudian dikenal di kalangan elite Eropa dan pejabat dunia
Margaretha Geertruida Zelle atau Mata Hari merupakan perempuan asal Belanda yang namanya tercatat dalam sejarah Eropa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Ia dikenal sebagai penari eksotis yang tampil di hadapan kalangan elite, termasuk miliarder dan pejabat tinggi di berbagai negara Eropa. Jejak hidupnya banyak berubah setelah tinggal di Hindia Belanda pada 1890-an.
Melansir CNBC Indonesia, Minggu (7/6/2026), kedatangannya ke Indonesia berawal dari pernikahannya dengan seorang perwira militer Belanda, Rudolf Macleod. Sebelum itu, Rudolf disebut mencari pasangan melalui iklan di surat kabar.
Margaretha yang tengah menghadapi masalah keluarga kemudian memutuskan pergi ke Hindia Belanda dengan harapan membangun kehidupan baru.
Baca Juga: Cerita Horor Ninja Bantai 250 Dukun Santet, Korban Guru Agama hingga Muncul Tanda Silang
Setibanya di wilayah kolonial tersebut, Margaretha menikah dengan Rudolf pada 1895 di Malang, Jawa Timur. Dari pernikahan itu, ia memiliki dua anak.
Namun kehidupan rumah tangga tidak berjalan baik karena adanya konflik internal, termasuk dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan perilaku suaminya yang tidak stabil.
Setelah perpisahan, Margaretha mulai hidup mandiri. Ia kemudian mempelajari seni tari dan budaya Jawa, termasuk teknik gerak tari tradisional serta penggunaan busana kebaya. Pengalaman ini menjadi dasar keterampilan yang kelak ia tampilkan di panggung Eropa. Sejak 1897, ia mulai menggunakan nama panggung Mata Hari.
Pada awal 1900-an, Mata Hari pindah ke Paris dan mulai menampilkan pertunjukan tari bergaya eksotis. Dalam sejumlah catatan sejarah, ia mengembangkan gaya pertunjukan yang berbeda dari tari Jawa yang dipelajarinya di Indonesia. Pertunjukan tersebut menarik perhatian kalangan elite Eropa dan membuatnya memperoleh bayaran tinggi.
Dari aktivitas tersebut, ia menjalani kehidupan mewah dengan tinggal di hotel-hotel mahal, mengenakan pakaian eksklusif, serta memiliki banyak perhiasan. Popularitasnya meningkat, terutama ketika Perang Dunia I berlangsung dan ia sering berhubungan dengan berbagai tokoh militer serta pejabat.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Aisha Bhutta: Mualaf Skotlandia yang Mengislamkan Lebih dari 30 Orang
Namun pada 1917, pemerintah Prancis menangkap Mata Hari dengan tuduhan sebagai mata-mata Jerman. Ia diduga menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan operasi militer. Proses hukum terhadap dirinya berlangsung dalam situasi ketat dan penuh tekanan.
Dalam persidangan pada 24 Juli 1917, Mata Hari membantah tuduhan tersebut. Ia mengakui pernah berhubungan dengan sejumlah perwira Jerman, tetapi menegaskan hal itu terjadi dalam konteks pekerjaannya sebagai penari. Meski demikian, pengadilan tetap menyatakan dirinya bersalah.
Pada 15 Oktober 1917, Mata Hari dieksekusi oleh pemerintah Prancis. Sebelum hukuman dijalankan, ia kembali menegaskan bahwa dirinya bukan mata-mata. Pernyataan itu menjadi bagian dari catatan akhir kehidupannya yang kemudian banyak dibahas dalam sejarah Eropa. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS