Harga 'Maroko' dan Drama Pengkhianatan Jersey di Pasar Ikan
Abrar, telisik indonesia
Sabtu, 18 Juli 2026
0 dilihat
Abrar, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara dan sosiolog olahraga. Foto: Ist.
" Fanatisme terhadap timnas sepak bola bisa langsung menguap begitu berhadapan dengan diskon 50 persen "

Oleh: Abrar
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara dan sosiolog olahraga
PAGI itu, pasar ikan disamping sebagai tempat transaksi protein hewani, juga mendadak berubah menjadi panggung teater sosial yang jauh lebih seru daripada babak perpanjangan waktu final Piala Dunia. Semuanya bermula dari satu deklarasi politik-ekonomis yang sangat berani dari seorang penjual ikan: “Rp60.000 untuk pendukung Argentina, Rp30.000 untuk yang lain!”
Hanya dalam sekejap, lapak beliau diserbu bak pahlawan yang baru kembali dari Piala Dunia FIFA. Mengapa? Karena rupanya, bagi warga kita, fanatisme terhadap timnas sepak bola bisa langsung menguap begitu berhadapan dengan diskon 50 persen.
Melihat dari tampilannya, si penjual ikan tampaknya adalah pendukung militan timnas Mesir yang sedang mengalami trauma emosional mendalam setelah timnya dikalahkan oleh Argentina di Mercedes-Benz Stadium di Atlanta, Amerika Serikat, pada hari Selasa, 7 Juli 2026. Di sela-sela menimbang ikan, ia tiada hentinya menggerutu dan melempar narasi konspirasi. "Argentina itu menang lawan Mesir karena dibantu wasit! Lawan Swiss juga sama!" ujarnya dengan nada berapi-api.
Bagi si penjual, tidak peduli bahwa pagi itu Argentina baru saja menumbangkan Inggris—yang notabene adalah salah satu favorit juara. Baginya, kemenangan Messi dan kawan-kawan tetaplah sebuah "kriminalitas taktik" yang dibantu oleh sang pengadil lapangan. Karena tidak bisa memprotes FIFA secara langsung ke markas FIFA di Swiss, ia pun meluncurkan sanksi ekonomi sepihak di lapak ikannya sendiri.
Dari sinilah drama bermula, melahirkan kejadian-kejadian yang sungguh di luar nalar sosiologis.
Seorang pembeli, dengan penuh percaya diri masih mengenakan jersey kebanggaan Argentina yang ikonik, berteriak lantang di depan penjual, “Saya pendukung Spanyol, Pak!” Ia lupa bahwa jersey yang ia kenakan itu berbicara jauh lebih nyaring daripada mulutnya. Sang penjual, dengan ketenangan seorang wasit yang baru saja memberikan kartu merah, hanya tersenyum sinis. Mungkin dalam batinnya, ia sedang menertawakan betapa rapuhnya loyalitas suporter di hadapan harga ikan Baronang.
Baca Juga: Apa Kabar Stunting? Ketika Krisis Senyap Kalah oleh Riuh Berita
Namun, drama belum usai. Ada yang jauh lebih heboh: seorang pembeli rela memutar balik kendaraan, pulang ke rumah, melepas jersey "terlarang" itu, dan kembali ke pasar dengan kaos polos seolah-olah ia baru saja melakukan operasi penyamaran intelijen tingkat tinggi. Semua demi apa? Demi label “Harga Maroko” yang prestisius itu.
Ternyata, kemenangan beruntun Argentina di lapangan hijau telah memicu "resistensi pasar" yang nyata di tingkat lokal. Kemenangan mereka di sana mungkin disambut dengan pesta, tapi di pasar ikan, itu dianggap sebagai gangguan stabilitas harga. Penjual ikan kita tampaknya telah memposisikan dirinya sebagai "oposisi radikal" terhadap hegemoni tim Tango. Ketika ada pembeli yang jujur mengaku mendukung Maroko, si penjual langsung memberikan harga spesial dengan kalimat sakti: “Yang penting bukan pendukung Argentina!” Sebuah pernyataan solidaritas yang membuat kita tersenyum kecut sekaligus kagum.
Sayangnya, sebelum saya sempat ikut berpartisipasi dalam drama harga "Maroko" tersebut, stok ikannya keburu ludes. Mungkin pembeli terakhir yang memboyong habis dagangan itu adalah fans berat Maroko yang paling militan, atau mungkin juga seorang pendukung Argentina yang akhirnya mengaku sebagai fans tim nasional antah-berantah demi diskon besar.
Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, fenomena jenaka di pasar ikan ini sesungguhnya mengajarkan satu pelajaran menarik tentang manusia. Dalam teori ekonomi klasik, manusia sering digambarkan sebagai homo economicus—makhluk rasional yang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan. Di pasar ikan pagi itu, teori tersebut memperoleh ilustrasi yang jauh lebih empiris sekaligus sindiran.
Identitas sebagai pendukung tim nasional yang biasanya dipertahankan dengan penuh gairah di media sosial, ternyata memiliki daya tahan yang sangat rapuh ketika berhadapan dengan selisih harga Rp30.000 per kilogram. Nasionalisme sepak bola yang semalam berkobar di depan layar televisi, mendadak menjadi konsep yang sangat fleksibel ketika memasuki wilayah dompet.
Lebih jauh lagi, peristiwa itu menunjukkan bahwa identitas sosial sering kali bersifat situasional. Seseorang dapat menjadi pendukung Argentina ketika menonton pertandingan, menjadi pengagum Spanyol ketika berdiskusi dengan teman, lalu dengan cepat bertransformasi menjadi simpatisan Maroko ketika berdiri di depan lapak ikan.
Ini bukan berarti mereka tidak memiliki pendirian atau keyakinan, melainkan karena manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan narasi dirinya dengan kebutuhan yang paling mendesak. Dalam kasus ini, kebutuhan mendesak itu bernama pragmatisme isi kantong.
Di sinilah letak ironi yang menggelitik. Di stadion, suporter rela menangis, berteriak, bahkan berdebat berhari-hari demi membela warna kebanggaan mereka. Namun di pasar tradisional, warna jersey yang sama bisa berubah menjadi beban ekonomi yang harus segera disamarkan. Seolah-olah pasar sedang memberikan pelajaran filsafat sederhana bahwa loyalitas memiliki harga, dan harga itu kadang-kadang dapat dihitung dengan sangat presisi menggunakan timbangan dan takaran pedagang ikan.
Baca Juga: Sanksi Balogun dan Syahwat Politik FIFA: Menggugat Kemunafikan dengan Pemikiran Bung Karno
Barangkali itulah mengapa pasar tradisional selalu menjadi laboratorium sosial yang paling jujur. Di sana, teori identitas, fanatisme, solidaritas, bahkan geopolitik global, diuji bukan melalui seminar akademik atau debat televisi, melainkan melalui transaksi sehari-hari yang sangat sederhana. Ketika diskon bertemu fanatisme, hasilnya bukan konflik horizontal atau revolusi sosial, melainkan komedi kecil yang membuat kita tertawa sekaligus mengangguk memahami tabiat dasar manusia.
Pada akhirnya, kisah "Harga Maroko" bukan sekadar cerita tentang komoditas ikan dan hegemoni sepak bola. Ia adalah cermin kecil yang memperlihatkan bagaimana kita semua sering kali bergerak di antara idealisme dan pragmatisme. Kita boleh memiliki klub, negara, atau tokoh favorit yang dibela mati-matian di ruang publik, tetapi kehidupan sehari-hari selalu memiliki cara unik untuk menguji seberapa kuat kesetiaan itu bertahan.
Dan sering kali, penguji iman kesetiaan itu bukanlah lawan tangguh di lapangan hijau, melainkan seorang pedagang ikan dengan senyum tipis dan daftar harga yang sangat kreatif. Begitulah pasar kita. Di sana, industri sepak bola global yang bernilai triliunan rupiah bisa ditertawakan hanya dengan timbangan ikan dan sedikit bumbu satire.
Argentina boleh saja memenangkan pertandingan di televisi pagi itu, tapi di meja pedagang, "Harga Maroko" tetap menjadi pemenang mutlak di hati rakyat. Jersey bisa saja dibeli di toko, tapi harga diri—atau setidaknya harga ikan—bisa berubah dalam sekejap tergantung siapa yang Anda dukung pagi ini. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS