Hubungan Intim di Malam Ramadan, Ini Jadwal Sehat yang Dianjurkan Pasangan Suami Istri

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 06 Maret 2026
0 dilihat
Hubungan Intim di Malam Ramadan, Ini Jadwal Sehat yang Dianjurkan Pasangan Suami Istri
Ilustrasi, selama Ramadan, hubungan suami istri tetap diperbolehkan dengan memperhatikan waktu serta kondisi tubuh. Foto: Repro iStockphoto

" Malam Ramadan memberi ruang bagi pasangan suami istri menjalankan hubungan intim setelah waktu berbuka puasa tiba "

JAKARTA, TELISIK.ID - Malam Ramadan memberi ruang bagi pasangan suami istri menjalankan hubungan intim setelah waktu berbuka puasa tiba. Bulan Ramadan identik dengan ibadah puasa yang mengharuskan umat Islam menahan diri dari berbagai hal sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Selain menahan lapar dan haus, umat Islam juga tidak diperkenankan melakukan hubungan suami istri pada siang hari. Larangan tersebut berlaku selama waktu puasa berlangsung, namun berubah menjadi kebolehan ketika waktu berbuka tiba hingga sebelum fajar menyingsing kembali.

Dalam praktik kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri tetap menjadi bagian dari kehidupan pasangan yang telah menikah, termasuk selama Ramadan.

Setelah berbuka puasa, umat Islam umumnya memanfaatkan malam hari untuk melaksanakan ibadah seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Namun, dalam kehidupan keluarga, hubungan intim juga tetap menjadi aktivitas yang dibolehkan sepanjang dilakukan pada waktu yang tepat.

Melansir NU Online, Jumat (6/3/2026), Islam memberikan tuntunan agar hubungan suami istri tetap dilakukan dengan memperhatikan kondisi tubuh. Salah satu pertimbangan utama adalah kondisi perut setelah berbuka puasa. Tubuh yang telah menjalani puasa seharian membutuhkan waktu untuk memulihkan energi melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi saat berbuka.

Pakar thibbun nabawi Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitabnya memberikan penjelasan mengenai waktu yang disarankan untuk melakukan hubungan suami istri. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kondisi tubuh agar aktivitas tersebut tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

Baca Juga: Puasa Disebut Jaga Kesehatan Reproduksi hingga Tingkatkan Peluang Hamil, Begini Penjelasannya

“Hubungan badan merupakan sunnah para rasul. Sebaiknya, aktivitas ini dilakukan setelah pencernaan selesai mencerna makanan, saat suhu tubuh pasangan dalam kondisi stabil, saat perut tidak terlalu kosong dan tidak juga penuh. Namun, (apabila diperlukan) maka hubungan badan di saat perut terisi dapat dikatakan lebih kecil bahayanya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau pernah berbuka puasa dengan berhubungan badan,” tulis Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitab Thibbun Nabawi.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan suami istri sebaiknya dilakukan setelah tubuh mendapatkan kembali energi dari makanan yang dikonsumsi saat berbuka. Setelah makan dan minum secukupnya, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan dan menghasilkan energi baru. Pada fase itulah kondisi tubuh dianggap lebih stabil untuk melakukan aktivitas fisik.

Bagi sebagian orang, hubungan intim langsung setelah berbuka puasa juga bisa terjadi, terutama apabila dorongan seksual muncul secara kuat. Namun, dalam kondisi perut kosong, aktivitas tersebut berpotensi menguras energi yang belum sepenuhnya pulih setelah menjalani puasa seharian.

Dalam konteks kesehatan, sejumlah penelitian juga menyoroti pengaruh puasa terhadap kondisi biologis laki-laki. Salah satu penelitian yang dilakukan Talib dan timnya pada tahun 2015 menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat berhubungan dengan penurunan dorongan seksual pada laki-laki.

Penelitian tersebut mencatat bahwa puasa yang dilakukan secara rutin selama Ramadan berkaitan dengan perubahan pada hormon reproduksi. Talib dan tim menyatakan bahwa puasa Ramadan dapat menurunkan kadar hormon Follicle Stimulating Hormone atau FSH yang berperan dalam produksi sperma.

“Puasa Ramadhan yang dilakukan dari hari ke hari secara rutin berhubungan dengan turunnya nafsu seksual, berkurangnya frekuensi hubungan badan dan turunnya hormon FSH pada laki-laki,” tulis Talib dan timnya dalam penelitian berjudul The Effect of Fasting on Erectile Function and Sexual Desire on Men in The Month of Ramadan.

FSH merupakan hormon yang berkaitan dengan proses produksi sperma pada laki-laki. Ketika kadar hormon ini menurun, produksi sperma juga dapat berkurang sehingga dorongan seksual secara alami ikut menurun. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa sebagian orang merasakan perubahan pada libido selama menjalani puasa Ramadan.

Penelitian lain yang dikutip dalam tulisan tersebut juga menunjukkan keterkaitan antara kadar FSH dengan kondisi libido pada laki-laki. Jabbour dalam kajiannya menyebutkan bahwa rendahnya kadar hormon tersebut dapat berpengaruh terhadap energi tubuh, kesuburan, serta dorongan seksual.

Di sisi lain, tubuh laki-laki tetap memproduksi sperma secara berkala. Produksi tersebut juga dipengaruhi oleh nutrisi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Apabila asupan nutrisi saat berbuka puasa terserap dengan baik, maka proses produksi sperma dapat meningkat.

Pada kondisi tertentu, meningkatnya produksi sperma dapat memunculkan dorongan seksual yang lebih kuat. Dalam situasi tersebut, hubungan suami istri menjadi salah satu cara menyalurkan dorongan biologis secara wajar dalam kehidupan rumah tangga.

Selain berkaitan dengan aspek biologis, hubungan intim juga memiliki dimensi psikologis dalam hubungan pasangan. Aktivitas tersebut dapat menjadi sarana rekreasi bagi suami dan istri selama menjalani kehidupan rumah tangga. Ketika dilakukan secara proporsional dan tanpa tekanan, hubungan suami istri dapat membantu menjaga kehangatan hubungan keluarga.

Baca Juga: Dorongan Hubungan Ranjang saat Bulan Puasa Naik, Begini Penjelasan Medis dan Cara Tangkalnya

Tulisan tersebut juga menyinggung bahwa aktivitas seksual yang dilakukan dengan kondisi tubuh yang cukup energi dapat memberikan berbagai manfaat.

Selain memberikan rasa lega dan kebahagiaan bagi pasangan, hubungan suami istri juga disebut dapat membantu menjaga kesehatan tubuh serta mendukung keseimbangan emosional.

Meski demikian, pemilihan waktu hubungan intim pada malam Ramadan pada akhirnya menjadi keputusan bersama antara suami dan istri. Setiap pasangan memiliki kondisi tubuh, rutinitas ibadah, serta pola aktivitas yang berbeda selama bulan puasa.

Karena itu, pengaturan waktu yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi fisik setelah berbuka puasa menjadi salah satu cara yang disarankan agar aktivitas tersebut dapat berjalan dengan aman sekaligus tetap sejalan dengan rangkaian ibadah yang dilakukan selama Ramadan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga