adplus-dvertising

Kembalinya Pendidikan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19

La Jeti, telisik indonesia
Sabtu, 16 Mei 2020
8301 dilihat
Kembalinya Pendidikan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19
La Jeti, S.Pd., M.Pd. Dosen PG PAUD UM Buton. Foto: Ist.

" Menariknya di tengah pandemic yang menyebabkan segala keterbatasan tersebut khususnya dalam pendidikan anak usia dini peran orang tua sangat diperlukan. Orang tua merupakan kunci utama pembelajaran anak. "

La Jeti, S.Pd., M.Pd.

Dosen PG PAUD Universitas Muhammadiyah Buton

Saat ini seluruh negara di dunia termasuk Indonesia sedang dilanda bencana non alam atau yang berkaitan dengan kesehatan yang dikenal dengan istilah COVID-19 (corona virus deseases nineteen). Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China dan menyebar di seluruh dunia sehingga mengakibatkan kematian yang cukup banyak.


Dampak dari virus ini bukan hanya mengancam kesehatan masyarakat akan tetapi juga ekonomi masyarakat dan pendidikan. Di tengah pandemi virus corona ini, semua lembaga pendidikan tidak terkecuali pendidikan anak usia dini diliburkan guna mencegah penyebaran virus tersebut.

Sepanjang sejarah, para ahli filosofi telah melakukan spekulasi mendalam tentang karakteristik anak dan bagaimana anak seharusnya dibesarkan. Bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi kuno memiliki pandangan yang kaya tentang perkembangan anak. Terutama dalam sejarah Eropa, tiga pandangan filosofis yang berpengaruh menggambarkan anak dalam istilah dosa asal, tabula rasa, dan kebaikan alami (bawaan).

Baca juga: Dampak Broadcast Informasi COVID-19 Melalui WhatsApp Terhadap Kecemasan

Dalam pandangan dosa asal (original sin view), yang secara khusus muncul selama abad pertengahan, anak-anak dipandang lahir ke dunia ini sebagai makhluk jahat. Tujuan dari merawat anak adalah memberikan penyelamatan menghapus dosa dari kehidupan anak.

Mendekati akhir abad ke-17 pandangan tabula rasa atau “the blank tablet” atau kertas putih, diyakini bahwa pengalaman masa kanak-kanak sangat menentukan karakteristik dan perkembangan anak ketika dewasa nanti. Tanggung jawab orang tua adalah meluangkan waktu bersama anak dan mendidiknya menjadi anak yang berbudi pekerti.

Pada abad ke-18, pandangan kebaikan alami (innate goodness view) merupakan suatu pandangan yang menyatakan bahwa anak-anak pada dasarnya baik. Karena anak-anak pada dasarnya baik, maka seharusnya diizinkan secara alami dengan seminimal mungkin pengawasan atau batasan dari orang tua dan pengasuh.

Dewasa ini, dalam pandangan barat tentang anak menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang unik dan sangat hidup, yang meletakkan dasar penting bagi tahun-tahun dewasa dan jelas berbeda dari tahun-tahun dewasa tersebut. Pendekatan terkini mengenai masa kanak-kanak mengidentifikasikan periode yang berbeda di mana anak menguasai keterampilan dan tugas-tugas tertentu yang menyiapkan mereka memasuki kedewasaan.

Baca juga: Mendadak E-Learning

Masa kanak-kanak tidak lagi dilihat sebagai periode menunggu yang tidak nyaman di mana orang dewasa harus bertoleransi terhadap kebodohan anak-anak. Sebagai gantinya, kita melindungi anak dari tekanan dan tanggung jawab pekerjaan orang dewasa melalui hukum perburuhan anak yang ketat.

Kita menangani kejahatan anak dalam sistem khusus peradilan anak. Kita juga mempunyai syarat-syarat untuk membantu anak ketika keluarga gagal. Singkatnya, sekarang kita menilai masa kanak-kanak sebagai waktu khusus bagi pertumbuhan dan perubahan, dan kita menyediakan sumber-sumber yang luas dalam upaya kita merawat dan mendidik anak.

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah cara pandang pendidikan informal sebagai konsep family education dan beralih pada pendidikan non formal dan formal sepenuhnya. Hal ini tentunya didasari beberapa faktor baik itu, status sosial ekonomi masyarakat, tingkat pendidikan, maupun karir, sehingga pendidikan anak lebih didasarkan pada pendidikan formal.

Pada abad ke-21 ini, di saat dunia dilanda pandemi COVID-19 yang mematikan tak terkecuali Indonesia, terkhusus dalam bidang pendidikan mengharuskan seluruh aktivitas terhenti termasuk aktivitas proses belajar secara normal yang awalnya dilakukan secara tatap muka harus beralih dan dilakukan secara daring.

Baca juga: Manarfa, Sosok Pendidikan di Buton

Menariknya di tengah pandemic yang menyebabkan segala keterbatasan tersebut khususnya dalam pendidikan anak usia dini peran orang tua sangat diperlukan. Orang tua merupakan kunci utama pembelajaran anak. Hal ini dimaksudkan agar minat belajar anak tidak menurun di tengah pandemi ini meskipun tidak menerima pembelajaran yang normal seperti sedia kala.

Hal menarik lainnya, suasana pandemi ini telah mengembalikan kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga yang selama ini jarang dilakukan atau bahkan diabaikan oleh sebagian kalangan keluarga. Pendidikan keluarga atau di era modern disebut dengan positif parenting atau pengasuhan berbasis kasih sayang, dalam konsep pengasuhan ini orang tua terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan anak.

Kebutuhan anak yang dimaksud antara lain, kebutuhan fisik (physical needs), orang tua harus memenuhi kebutuhan dasar dalam keluarga seperti pakaian, makanan dan tempat tinggal.

Baca juga: Keluarnya Narapidana di Masa Pandemik, Perlukah?

Selain kebutuhan secara fisik, kebutuhan emosional menjadi penting pula. Kebutuhan emosianal (emotional need) merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi orang tua dengan menyayangi, memahami dan menghormati anak. Kebutuhan pengetahuan (intelectual needs), orang tua juga harus memenuhi kebutuhan intelektual anak dengan mendidik dan mengajarkan mata pelajaran yang dipelajari di sekolah.

Kebutuhan sosial (social need), kebutuhan sosial ini sangat penting bagi anak, dalam hal ini orang tua perlu untuk memberikan ruang aktif anak untuk berteman dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Kebutuhan akan rasa aman (protection need), anak membutuhkan rasa aman dari ancaman baik itu ancaman dari kekerasan fisik, verbal maupun seksual.

Kebutuhan rohani (spritual need) tak kalah penting untuk ditanamkan sejak dini di keluarga. Kebutuhan akan iman dan ketakwaan menjadi dasar untuk tumbuh kembang jiwa anak yang baik. Orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anak akan tetapi keimanan anak untuk mendekatkan dirinya pada sang pencipta menjadi fundamental.

Pendidikan rohani, watak, budi pekerti dan nilai-nilai karakter, penanaman sikap dan nilai- nilai budaya lokal pun perlu ditanamkan sejak dini melalui metode keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan keluarga.

Baca juga: Ki Dahlan Tokoh Pendidikan Sebelum Ki Hajar

Keluarga merupakan lingkungan pertama anak untuk memperoleh pendidikan, pengasuhan, motivasi dan bimbingan dari dalam kandungan hingga dewasa. Keluarga dalam arti kedua dapat dikatakan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap tumbuh kembang anaknya, baik secara jasmani maupun rohani.

Dalam sebuah penelitian telah dikemukakan bahwa peran orang tua yang aktif, sebagai mediator dan motivator memberikan dampak yang baik dalam pembelajaran anak di rumah, sosial emosional dan pembelajaran anak berkembang dengan baik.

Kita menyadari virus ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar, khususnya pada anak usia taman kanak-kanak yang tidak dapat dilakukan pembelajaran berbasis daring. Sehingga pendidikan keluarga sangatlah penting di tengah situasi pembelajaran tidak normal. Orang tua tidak hanya menjadi pendidik sebagai orang tua tetapi berperan sebagai guru layaknya pendidikan formal.

Sebuah penelitian studi kasus lainnya mengemukakan peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini di daerah yang sumber pembelajarannya sangat terbatas dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua menjadi penting dan mendasar dalam pendidikan anak untuk membantu anak dari keterbatasan belajar, meningkatkan hubungan sosial anak dan mengajarkan tentang kesadaran akan harga diri dan minat belajar bagi anak.

Situasi pandemi ini pengasuhan positif (pendidikan keluarga) menjadi sangat penting untuk tetap terlaksananya proses pembelajaran di rumah. Selama ini orang tua kurang terlibat dalam pembelajaran anak karena kesibukan dan karir, tetapi di saat ini keluarga menjadi pendidikan utama.

Inilah hikmah yang bisa kita petik dari pandemi COVID-19. Semoga badai ini cepat berlalu dan Indonesia bisa kembali seperti sedia kala begitu pula dengan dunia pendidikan. (*)

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga