adplus-dvertising

Kisah Tukang Parkir Polres Berhasil Jadi Polairud

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 27 Juli 2021
1210 dilihat
Kisah Tukang Parkir Polres Berhasil Jadi Polairud
Wahyu Setiaji Norma Azima. Foto: Repro Kicknews.today

" Wahyu dinyatakan lulus pada Formasi Tamtama Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) "

MATARAM, TELISIK.ID - Kegigihan dan tekad pantang menyerah adalah kunci bagi sesiapapun di muka bumi ini, untuk menggapai cita.

Wahyu Setiaji Norma Azima, tukang parkir di Kepolisian Resor (Polres) Kota Mataram, akhirnya menggapai cita-citanya menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Orang tuanya pun bukan dari keluarga bergelimang harta.


M Nazir adalah ayahnya. Ibunya bernama Masnun. Ayahnya berprofesi sebagai tukang ojek, sementara ibunya penjual nasi bungkus di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Saya ikut seleksi baru tahun ini. Alhamdulillah, saya langsung lulus," ungkap Wahyu seperti dilansir dari kicknews.today.

Wahyu dinyatakan lulus pada Formasi Tamtama Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud).

Wahyu merupakan salah satu calon siswa dari 614 yang dinyatakan dinyatakan lulus. Dalam penerimaan tahun 2021 ini, ada 3.186 pendaftar di lingkup Kepolisian Daerah NTB.

Dari video di akun Instagram @divisihumaspolri, Wahyu bercerita tentang kisahnya sampai berhasil jadi anggota Polri. Awalnya Wahyu bercerita, bahwa ia pernah jadi tukang parkir di depan Polresta Mataram.

"Sebelum menjadi tukang parkir?" tanya atasan.

"Menjadi tukang las," jawabnya.

Iya. Itulah Wahyu, dulu. Ia pernah bekerja sebagai tukang las. Begitulah hidup.

Setiap orang tak pernah diberikan pilihan untuk terlahir dari orang tua dari bangsa apa, pekerjaannya apa, kondisi keuangannya bagaimana. Namun, itu hanyalah warnanya dunia.

Informasi penerimaan terpadu Bintara dan tamtama yang ditempel di papan informasi Polres, menggerakkan hatinya untuk mendaftar. Setelah itu hanya berbekal kegigihan.

Sejak saat itu, ia bertekad untuk melatih fisik secara serius. Ia juga latihan akademik secara mandiri. Caranya adalah belajar dari internet.

"Saya melatih diri sendiri. Pada saat tes jasmani, saya lari sendiri, saat tes akademik saya belajar melalui internet dan bertanya sama kakak, teman, dan orang-orang terdekat," ujarnya.

Kisah Wahyu dan tentu kisah-kisah serupa, mengajarkan kepada kita bagaimana seseorang di masa depan, tentu tak bisa dijustifikasi dengan sesorot mata kecut. Masa depan terlalu misteri, sehingga menilainya hari ini adalah bentuk kesombongan dan kebodohan.

Mendengar informasi kelulusan Wahyu orang tuanya terharu dan hampir pingsan. Mereka tak menyangka, anaknya bisa mencapai mimpi.

Baca Juga: Profil Rektor UI Ari Kuncoro: Dari Karier, Kontroversi hingga Harta Kekayaannya

Baca Juga: Wagus Hidayat: Pemilik Maskapai Perintis di Bumi Cendrawasih

"Perasaan orangtua saya terharu, sedih, dan hampir pingsan saking senangnya," bebernya.

Setiap yang dilahirkan dari kondisi orangtua seperti apapun, boleh bermimpi, berusaha, dan berdoa. Sesiapapun kita, adalah sama, dilahirkan telanjang termasuk seseorang yang kelak akan menjadi raja, presiden, atau orang kaya.

Jika sebelumnya Wahyu hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak karuan. Kini dirinya dapat merubah status dan cara pandang orang.

Seperti Wahyu, selama seseorang punya tekad, kegigihan, dan pantang menyerah, bisa saja Tuhan mengangkatnya menjadi orang yang berguna di masa mendatang. Sudah terlalu banyak bukti. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga