adplus-dvertising

Loghia, Desa Tua dengan Objek Wisata Terpendam

Sunaryo, telisik indonesia
Sabtu, 18 Juni 2022
3773 dilihat
Loghia, Desa Tua dengan Objek Wisata Terpendam
Pantai Napabale dengan air birunya yang memukau. Foto: Ist.

" Danau berair biru yang terletak di Desa Loghia, Kecamatan Loghia itu, berjarak kurang lebih 25 kilometer dari Kota Raha dengan waktu tempuh 20 menit "

MUNA, TELISIK.ID - Objek wisata Danau Napabale cukup familiar bagi masyarakat Muna. Bahkan tersohor hingga ke seluruh jazirah Sulawesi Tenggara.

Danau berair biru yang terletak di Desa Loghia, Kecamatan Loghia itu, berjarak kurang lebih 25 kilometer dari Kota Raha dengan waktu tempuh 20 menit.

Saking familiarnya, bagi wisatawan yang ingin berkunjung tidak perlu takut bakal tersesat, asal mau bertanya. Semua masyarakat Muna pasti tahu di mana lokasinya. Apalagi angkutan umum cukup tersedia untuk ke danau yang memiliki terowongan yang berhubungan langsung dengan laut luas itu.


Meski nama Napabale familiar, tapi belum banyak yang tahu cerita danau berair biru itu. Penamaan Napabale ada dua versi menurut masyarakat setempat.

Kadir, masyarakat Loghia menuturkan, Napabale berasal dari dua suku kata. Napa artinya pelabuhan dan Bale artinya janur. Masyarakat Loghia di zaman kerajaan, memiliki pekerjaan menganyam tikar.

Tikar-tikar tersebut bahan bakunya janur yang didatangkan dari Muna Timur (Maligano, Pasir Putih dan Pure). Masyarakat seberang membawa janur masuk melalui pantai Loghia.

“Karena sering berlabuh di Pantai Loghia, masyarakat lokal lalu menyebutnya Napabale," tuturnya.

Namun, ada juga versi lainya tentang nama Napabale yang berasal dari dua suku kata. Napa artinya pelabuhan dan Bale artinya ikan. Nelayan-nelayan asal Bugis, masuk ke Muna melalui Loghia dan menjual ikan hasil tangkapan mereka.  

Baca Juga: Tempode Resort Reo, Bikin Malam Minggu Anda Berkesan, Yuk Ajak Keluarga Kesini

Nelayan Bugis menyebut pantai itu Napabale. Terlepas dari versi penamaan Napabale, masyarakat Loghia sepakat bahwa di zamannya, Napabale pernah menjadi pusat niaga di Loghia dan Muna.

“Dari perdagangan bale (janur) berkembang menjadi hasil bumi. Masyarakat Buton masuk ke Loghia melalui Napabale," ungkapnya.  

Tidak jauh dari Napabale, terdapat pelabuhan niaga pertama di Muna yaitu, Pelabuhan Batu Kolasa.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Napabale, masih dalam Desa Loghia, terdapat objek wisata alam, pra sejarah dan spritual. Jaraknya pun sangat berdekatan.

Sehabis berendam air asin di Danau Napabale, wisatawan dapat membilas badan di Sampuha. Sampuha merupakan kali kecil bermulut lonjong dengan panjang tak lebih dari 10 meter. Berjarak 100 meter dari Napabale.

Sampuha merupakan tempat permandian pejabat kerajaan. Sampuha terdapat batu berbentuk pipih, yang digunakan sebagai tempat salat pejabat kerajaan yang telah memeluk Islam.

Berjarak 200 meter dari Sampuha, terdapat objek wisata Gua Amororondo. Amororondo adalah gua yang menjorok ke dalam tanah dan gelap. Di dalamnya terdapat sumber mata air.

Liang Kabori yang memiliki 10 liang bergambar. Foto: Ist.

 

Saat masuk ke dalam gua, tidak ada yang terlihat. Namun setelah 15 menit berada dalam gua, gua menjadi terang. Di dalam gua terdapat kali kecil untuk berendam. Tempat mandi antara perempuan dan laki-laki terpisah oleh sekat.

Karena gua tersebut terlihat gelap, masyarakat sekitar menyebutnya Amororondo. Maju sedikit 15 meter dari Amororondo, terdapat Liang Ghonula. Liang Ghonula bermulut kecil dengan menjorok ke dalam tanah. Untuk turun harus menggunakan tangga.

Menyusuri gua 20 meter, terdapat kali. Kalinya berada di bawah tanah dan cukup luas. Di liang Ghonula, terdapat sarang burung walet. Sejak digunakan sebagai sumber air bersih oleh PDAM, masyarakat sekitar tidak lagi memanfaatkan Ghonula untuk mandi.

Diberi nama Ghonula, karena masyarakat yang masuk hanya mengikuti bayangannya. Ghonula itu artinya bayangan.

Dari Ghonula, berjarak 1 kilometer terdapat sumber mata air masyarakat Loghia. Masyarakat setempat menyebutnya Titalo yang memiliki arti tak terkalahkan. Dinamakan Titalo, karena meski ribuan masyarakat mengambil air disitu, tapi airnya tidak pernah kering.

Sumur tua yang terdapat di Masjid Tua Loghia, konon dibuat hanya dalam waktu semalam. Foto: Ist.

 

Titalo juga berupa liang besar menjorok ke tanah sedalam 20 meter. Pemerintah telah membangun tangga untuk memudahkan masyarakat mengambil air tawar.

Keunikan dari Titalo. Bila air laut pasang, air di gua tersebut surut. Dan sebaliknya bila air laut surut, air di Titalo malah pasang. 

Berjalan 3 kilometer dari Titalo terdapat objek wisata religi, Masjid Loghia, yang merupakan mesjid pertama di Muna. Namun rehabilitasi yang dilakukan oleh Pemda Muna telah merubah wajah asli masjid tersebut. Meski demikian, Masjid Loghia tetap menarik untuk dikunjungi.

Baca Juga: Desa Wisata Kollo Soha Wakatobi Tawarkan Pesona Pantai Pasir Putih hingga Sunset Terbaik

Di sisi kiri masjid tersebut terdapat lubang sumur yang konon ceritanya dibuat hanya dalam waktu semalam. Dulu jumlah sumurnya 154 buah, tapi saat ini sudah banyak yang tertutup.

Masjid tua Loghia yang merupakan masjid pertama di Muna. Foto: Ist

 

Menurut cerita masyarakat sekitar, sumur tersebut muncul atas doa Syaidi Rabba. Kala itu setelah masyarakat setempat telah memeluk Islam, namun sumber air untuk mensucikan diri jauh.

Lima kilometer ke arah barat, terdapat objek wisata pra sejarah, Liang Kabori. Di objek wisata prasejarah itu terdapat 10 liang yang bergambar. Liang Metanduno 310 lukisan, Liang Kabori 130 lukisan,

Lakolambu 60 lukisan, Toko 58 lukisan, Wabose 48 lukisan, La Tanggara 7 lukisan, Pamisa 300 lukisan, Lasaba 35 lukisan, Pinda 50 lukisan dan Liang Sugi Patani 7 lukisan. Khusus di liang Sugi Patani, terdapat lukisan layang-layang yang didominasi gambar hewan dan manusia yang berburu.

Liang-liang tersebut, menurut cerita, merupakan tempat tinggal manusia purba.  (A)

Penulis: Sunaryo

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga