adplus-dvertising

Muhasabah: Refleksi Komunikasi Politik di Masa Pandemi

Heri Budianto, telisik indonesia
Sabtu, 25 April 2020
2982 dilihat
Muhasabah: Refleksi Komunikasi Politik di Masa Pandemi
Dr Heri Budianto, M.Si, Pengajar Komunikasi Politik & Direktur Eksekutif PolcoMM Institute. Foto: Ist.

" Pentingnya bagi kita, menjaga agar tak gaduh. Pentingnya bagi elite menyampaikan hal yang teduh. "

Oleh: Dr Heri Budianto, M.Si

Pengajar Komunikasi Politik & Direktur Eksekutif PolcoMM Institute

Menjalankan ibadah puasa di tahun 1441 H terasa sangat berbeda. Baru dua hari puasa,  suasana keheningan tampak di tengah pandemi COVID-19.


Betapa tidak, tak seperti biasa ibadah sholat taraweh di jalankan di rumah, tak tampak lapak-lapak bazar takjil Ramadhan jelang buka puasa. Begitulah setidaknya gambaran malam kedua dan hari pertama puasa di tahun ini.

Wabah COVID-19 yang melanda dunia, juga di negeri kita membuat pemerintah (ulil amri)  menerapkan kebijakan untuk mengatasi persoalan pandemi.

Tak pelak, kebijakan pemerintah yang dikomunikasikan oleh pimpinan tertinggi negara dan pemerintahan menjadi viral di jagat maya.

Berbanding terbalik di dunia nyata (the real community) yang tanpa sepi, justru ruang maya (cyber community) menjadi "gaduh" ketika kata "mudik" dan "pulang kampung" mendadak muncul di ruang publik.

Baca juga: Politik Tak Hanya Pukul, Rangkul tapi Tafakur

Pro dan kontra, mewarnai, dan caci maki pun tak tekendali.

Begitulah potret negeri maya yang merupakan jelmaan negeri nyata.

Komunikasi menjadi sangat penting, ketika proses itu disampaikan oleh elite politik.

Sebab, elite merupakan komunikator yang banyak disoroti oleh publik. Salah sedikit atau kontroversial sedikit, maka akan menjadi bahan publik untuk menanggapi.

Disinilah pentingnya bagi elite politik untuk, menyiapkan narasi narasi komunikasi yang baik, terukur dan tak bermakna ganda (multi tafsir).

Dalam dua situasi yang kita alami saat ini,  yakni wabah pandemi dan bulan Ramadhan hendaklah kita melakulan muhasabah diri.

Secara kebahasaan, muhasabah berasal dari akar kata hasiba-yahsabu-hisab. Artinya, 'melakukan perhitungan.' Secara istilah keagamaan, muhasabah berarti suatu upaya mengevaluasi diri sendiri atau kolektif, yakni memeriksa adanya kebaikan dan keburukan dalam segala aspek.

Baca juga: Mengukur Kepedulian Calon Kepala Daerah di Masa Krisis

Mengapa ini penting, di awal tadi sudah saya katakan, bahwa Ramadhan 1441 H ini terasa berbeda.

Kita lebih banyak diam dirumah, ibadah di rumah. Disinilah kecukupan waktu kita untuk melakukan muhasabah secara pribadi dan kolektif (bersama sama sebagai sebuah bangsa).

Pentingnya bagi kita, menjaga agar tak gaduh.

Pentingnya bagi elite menyampaikan hal yang teduh.

Karena komunikasi dalam ruang publik tak bisa memaksakan arti makna yang sama dalam setiap kata.

Muhasabah dilakukan oleh semua sendi negara yakni pemerintah dan rakyat.

Bukankah bulan Ramadhan merupakan bulan suci, dimana bagi kita yang melaksanakan puasa agar menahan diri.

Menahan diri dari segala hal, termasuk dalam narasi-narasi komunikasi politik yang dapat membuat gaduh.

Jika dalam masa itu, kita mampu melakukannya, maka muhasabah akan menghasilkan situasi baik dalam menjalankan ibadah puasa.

Muhasabah akan menghasilkan hal baik, untuk kita bersama mengatasi situasi wabah pandemi bersama.

Muhasabah akan menjadi pintu bagi kita membangun negeri dalam kondisi apapun. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga