Pertalite Tembus Rp 25 Ribu di Wangi-Wangi Wakatobi, Warga Sorot Lemahnya Penindakan
Zulkifli Herman Tumangka, telisik indonesia
Jumat, 10 April 2026
0 dilihat
Masyarakat soroti lemahnya penindakan terhadap kenaikan harga eceran Pertalite. Foto: Zulkifli Herman Tumangka/Telisik
" Harga BBM jenis Pertalite di wilayah Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, hingga kini masih bertahan tinggi di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per botol "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Harga BBM jenis Pertalite di wilayah Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, hingga kini masih bertahan tinggi di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per botol di tingkat pengecer.
Kondisi tersebut memicu keresahan karena dinilai semakin membebani masyarakat.
Kanit 2 Satreskrim Polres Wakatobi, Suprianto menjelaskan, lonjakan harga dipicu oleh isu kenaikan BBM yang sempat beredar pada awal April, ditambah keterlambatan distribusi yang membuka celah bagi pengecer menaikkan harga.
“Ada kegelisahan di masyarakat akibat isu kenaikan BBM, padahal pemerintah sudah menegaskan tidak ada kenaikan. Situasi ini dimanfaatkan oleh pengecer,” jelasnya.
Meski demikian, langkah penindakan terhadap praktik tersebut terkesan belum maksimal. Pihak kepolisian mengaku lebih mengedepankan pendekatan persuasif.
Kita sudah lakukan pemantauan dan menghimbau agar tidak menaikkan harga terlalu tinggi. Sekarang sudah mulai berangsur stabil, walaupun masih ada beberapa yang bertahan dengan harga tinggi,” tambahnya.
Baca Juga: Harga Pertalite di Wangi-Wangi Wakatobi Tembus Rp 25 Ribu Per Botol, Polisi Sebut Ulah Pengecer
Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Wakatobi, Safiuddin, juga mengakui bahwa praktik penjualan BBM bersubsidi oleh pengecer sebenarnya tidak dibenarkan secara regulasi.
“Secara aturan, pengecer BBM bersubsidi tidak dibolehkan, tapi faktanya tetap ada di mana-mana,” ungkapnya.
Ia menyebut, kenaikan harga di tingkat pengecer kerap terjadi saat distribusi terlambat, yang kemudian dimanfaatkan untuk meraup keuntungan.
“Kalau terjadi keterlambatan pasokan, biasanya dimanfaatkan pengecer untuk menaikan harga,” katanya.
Namun, pernyataan tersebut dinilai belum diiringi langkah tegas di lapangan. Harga BBM di tingkat pengecer masih bertahan tinggi dan mudah ditemukan di berbagai titik.
Perindag menilai keberadaan pengecer dalam kondisi tertentu dapat membantu masyarakat, pernyataan yang memunculkan kesan adanya toleransi terhadap praktik yang secara aturan dilarang.
Sementara itu, dugaan adanya pasokan BBM dari luar jalur resmi juga mencuat. Namun, penanganannya kembali diserahkan kepada aparat penegak hukum tanpa kejelasan langkah konkret.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat justru menjadi pihak yang paling terdampak.
Bung Kardin, salah satu masyarakat Wakatobi mengaku, kenaikan harga BBM telah berlangsung lama tanpa penanganan serius.
“Harga naik gila-gilaan, sementara masyarakat sangat bergantung pada BBM untuk mobilisasi. Ini sudah lama terjadi, tapi tidak ada penindakan tegas dari pemerintah,” ujarnya saat di wawancarai, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Kelangkaan Pertalite di Wakatobi Picu Kepanikan, Harga Tembus Rp 30 Ribu Per Botol
Ia mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera bertindak, termasuk mengusut dugaan distribusi BBM ilegal.
“Kalau memang ada pemasok BBM di luar jalur resmi, harus segera diungkap dan ditindak. Jangan dibiarkan terus seperti ini,” tegasnya.
Kondisi ini menegaskan adanya celah dalam pengawasan distribusi BBM di tingkat hilir. Tanpa langkah tegas, praktik kenaikan harga oleh pengecer berpotensi terus berulang setiap kali pasokan terganggu, sementara masyarakat tetap menanggung beban. (A)
Penulis: Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS