Prabowo Mau ke Iran Redam Eskalasi Perang Amerika Cs di Timur Tengah
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 01 Maret 2026
0 dilihat
Prabowo melaksanakan pertemuan bilateral dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) di Abu Dhabi. Foto: Instagram@prabowo
" Situasi kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah rangkaian serangan militer dan gagalnya jalur perundingan antara sejumlah negara "

JAKARTA, TELISIK.ID - Situasi kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah rangkaian serangan militer dan gagalnya jalur perundingan antara sejumlah negara.
Di tengah ketegangan itu, pemerintah Indonesia menyiapkan langkah diplomasi langsung dengan menawarkan peran mediasi guna meredakan konflik yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk bertolak ke Iran demi memfasilitasi dialog apabila kedua pihak yang berseteru menyetujui upaya tersebut. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang dikutip di Jakarta, menanggapi eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam keterangan tertulis, pemerintah menyesalkan gagalnya perundingan antara Washington dan Teheran yang sebelumnya diharapkan mampu menahan ketegangan.
Kegagalan itu dinilai berdampak langsung pada meningkatnya risiko keamanan kawasan serta potensi gangguan terhadap stabilitas global yang lebih luas.
Baca Juga: Sosok Kim Ju Ae Penerus Tunggal Kim Jong Un, Dilatih Pegang Kendali Rudal
Melansir dari Antara, Minggu (1/3/2026), Kemlu menegaskan bahwa Indonesia menyerukan seluruh pihak menahan diri serta mengedepankan jalur dialog dan diplomasi.
Pemerintah juga kembali menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, sekaligus mendorong penyelesaian perbedaan melalui cara-cara damai sesuai hukum internasional.
Pernyataan resmi tersebut memuat kutipan langsung posisi pemerintah. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.
Langkah diplomasi itu disebut sebagai cerminan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dipegang Indonesia. Prinsip tersebut menempatkan Indonesia tidak berpihak pada blok tertentu, namun tetap berperan aktif menjaga perdamaian dan stabilitas internasional melalui jalur perundingan.
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran sehari sebelumnya. Serangan tersebut disebut sebagai operasi militer lanjutan yang dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump sejak aksi pertama pada Juni 2025.
Trump menyatakan pasukan Amerika meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Baca Juga: Khamenei Bebaskan 2.108 Napi, Tapi Peserta Kerusuhan Tak Dapat Ampun
Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran komunitas internasional atas potensi konflik yang meluas.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menjalani tiga putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir. Proses tersebut dimediasi oleh Oman dan digelar di Muscat serta Jenewa. Agenda pembahasan berfokus pada pembatasan pengayaan dan persediaan uranium sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Pemerintah Indonesia juga mengimbau warga negara Indonesia yang berada di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan waspada. WNI diminta mengikuti arahan otoritas setempat serta menjaga komunikasi dengan perwakilan RI terdekat guna memastikan keselamatan dan keamanan selama situasi belum sepenuhnya stabil. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS