PT Vale Bukukan Kinerja Kuat di Triwulan II 2026, Produksi Nikel Meningkat dan Laba Melonjak
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 05 Agustus 2026
0 dilihat
Petugas PT Vale Indonesia melakukan pengamatan kondisi geologi di area tambang sebagai bagian dari upaya mendukung peningkatan produksi nikel dan menjaga keandalan operasional perusahaan. Foto: PT Vale Indonesia
" PT Vale Indonesia Tbk membukukan kinerja solid pada triwulan II 2026 "

JAKARTA, TELISIK.ID - PT Vale Indonesia Tbk membukukan kinerja solid pada triwulan II 2026 setelah produksi nikel meningkat 19 persen dan laba bersih mencapai AS$61 juta.
Dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026), PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatat peningkatan produksi dan kinerja keuangan pada triwulan II 2026. Perseroan menilai capaian tersebut mencerminkan penguatan operasional di tengah dinamika industri nikel global serta berlanjutnya pengembangan proyek strategis.
Sepanjang triwulan II 2026, PT Vale memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte. Angka tersebut meningkat sekitar 19 persen dibandingkan produksi pada triwulan I 2026 yang mencapai 13.620 metrik ton. Dengan demikian, total produksi nikel selama semester pertama 2026 tercatat sebanyak 29.773 metrik ton.
Peningkatan produksi didukung rampungnya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026. Selain itu, perusahaan menyebut fokus terhadap keselamatan kerja dan peningkatan keandalan operasional turut menjadi faktor yang menopang pencapaian tersebut.
Di luar bisnis nikel matte, PT Vale juga terus mengembangkan tiga hub pertambangan yang berada di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia.
Baca Juga: PT Vale Indonesia Catat Kinerja Solid Triwulan II 2026, Produksi Nikel Naik 19 Persen
Pada triwulan II 2026, penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi mencapai 1,07 juta wet metric ton. Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat penjualan sebesar 1,26 juta wet metric ton. Kinerja tersebut menjadi tambahan kontribusi terhadap portofolio bisnis perusahaan.
Dari sisi keuangan, PT Vale membukukan pendapatan sebesar AS$290 juta atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang meningkatnya harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi AS$14.765 per ton atau naik sekitar 4 persen secara triwulanan.
Perseroan juga mencatat perbaikan efisiensi biaya produksi. Biaya tunai pokok penjualan nikel matte turun menjadi AS$10.005 per ton dari sebelumnya AS$10.382 per ton pada triwulan I 2026. Di sisi lain, biaya tunai bisnis bijih nikel di Bahodopi dan Pomalaa tetap terjaga stabil meskipun aktivitas operasional meningkat.
Perbaikan produksi, pendapatan, dan efisiensi tersebut berdampak pada peningkatan laba operasional perusahaan. EBITDA PT Vale tercatat sebesar AS$116 juta atau meningkat 45 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Perseroan juga membukukan laba bersih sebesar AS$61 juta. Nilai tersebut meningkat sekitar 39 persen dibandingkan laba bersih triwulan I 2026 yang mencapai AS$44 juta.
Selama periode tersebut, PT Vale merealisasikan belanja modal sekitar AS$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi sekaligus mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis. Hingga 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar AS$111 juta.
Selain mencatat kinerja keuangan yang positif, PT Vale juga melaporkan perkembangan proyek hilirisasi nasional. Pada Selasa, 22 Juli 2026, perseroan menggelar seremoni kedatangan autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project Morowali. Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani.
Baca Juga: Menteri Investasi Jempol Praktik ESG PT Vale di Morowali, Dinilai Selaras dengan Hilirisasi Berkelanjutan
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave menjadi tahapan penting dalam pembangunan rantai nilai bahan baku baterai yang terintegrasi di Indonesia.
"Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik yang terintegrasi di Indonesia. Ini juga mencerminkan komitmen kami untuk mendukung agenda hilirisasi nasional melalui pengembangan Proyek HPAL Sambalagi," kata Bernardus Irmanto.
Ia menambahkan, PT Vale akan terus mempercepat pengembangan Proyek HPAL Sambalagi untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Produk tersebut merupakan bahan antara yang dibutuhkan dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan menjadi bagian dari penguatan ekosistem industri hilir mineral di Indonesia. (D-Adv)
Penulis: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS