Sektor Penyumbang Pajak Terbesar 2026 ke Purbaya, Berikut Daftarnya

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Sabtu, 23 Mei 2026
0 dilihat
Sektor Penyumbang Pajak Terbesar 2026 ke Purbaya, Berikut Daftarnya
Penerimaan pajak April 2026 mencapai Rp 646 triliun, disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta. Foto: Instagram@menkeuri

" Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp 646,3 triliun "

JAKARTA, TELISIK.ID - Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp 646,3 triliun dengan kontribusi utama dari sektor perdagangan dan industri pengolahan.

Pemerintah mencatat realisasi penerimaan pajak hingga akhir April 2026 mencapai Rp 646,3 triliun. Angka tersebut setara 27,4 persen dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 2.357,7 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa penerimaan pajak dalam empat bulan pertama tahun ini tumbuh 16,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pajaknya sendiri tumbuhnya 16% ya, dan kita akan dorong terus ke 20%,” kata Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta di Jakarta, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (23/5/2026).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kontribusi terbesar penerimaan pajak berasal dari beberapa sektor utama yang menopang kinerja fiskal nasional pada awal 2026.

Berikut daftar sektor penyumbang pajak terbesar hingga April 2026:

1. Sektor perdagangan: Rp161 triliun (24,9 persen), tumbuh 47,6 persen secara neto.

2. Industri pengolahan: Rp145,3 triliun (22,5 persen), tumbuh 8,4 persen.

3. Pertambangan: Rp56,7 triliun (8,8 persen), tumbuh 6,8 persen.

4. Konstruksi dan real estat: Rp24,2 triliun (3,7 persen), tumbuh 0,8 persen.

Baca Juga: Pajak Kendaraan Listrik dan Bensin 2026 Dibedakan, Begini Penjelasan Bahlil

Purbaya menjelaskan bahwa sektor perdagangan menjadi penyumbang terbesar, terutama ditopang oleh aktivitas perdagangan besar bahan bakar minyak dan perdagangan daring yang meningkat seiring tren belanja digital.

“Perdagangan tumbuh 16,2%. Jadi masih ada yang beli tuh,” ujarnya.

Sementara itu, industri pengolahan turut memberikan kontribusi signifikan, terutama dari subsektor kelapa sawit yang mencatat peningkatan profitabilitas pada periode tersebut.

Untuk sektor pertambangan, kontribusi pajak disebut masih dipengaruhi pergerakan harga komoditas global, khususnya minyak dan gas.

“Pertambangan juga walaupun ribut-ribut masih tumbuh juga mungkin karena harga dunia yang bagus,” kata Purbaya.

Dari sisi jenis pajak, penerimaan terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp221,2 triliun dengan pertumbuhan 40,2 persen.

Selanjutnya, Pajak Penghasilan (PPh) Badan tercatat Rp135,2 triliun, tumbuh 5,1 persen. PPh orang pribadi dan PPh 21 mencapai Rp101,1 triliun dengan pertumbuhan 25,1 persen.

Baca Juga: Tidak Lapor SPT Tahunan Pajak 2026, Begini Penjelasan Sanksinya

Komponen lain, yakni PPh final, PPh 22, dan PPh 26, menyumbang Rp109,1 triliun. Sementara kategori lainnya tercatat Rp79,7 triliun dan mengalami kontraksi 12 persen.

“Berarti kan kuat. Padahal di luar banyak yang bilang daya beli sedang hancur. Ini yang bikin saya bingung sebetulnya. Tapi ini yang kita lihat, bukan perasaan saya, ini data yang berbunyi seperti ini,” kata Purbaya.

Pemerintah menyatakan capaian tersebut akan menjadi dasar penguatan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas penerimaan negara sepanjang 2026. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga