Titik Temu Harapan Jokowi dan Harapan PSI

Efriza, telisik indonesia
Minggu, 21 Juni 2026
0 dilihat
Titik Temu Harapan Jokowi dan Harapan PSI
Efriza, dosen ilmu politik di beberapa kampus & owner penerbitan. Foto: Ist.

" PSI akan segera meresmikan bergabungnya mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Dewan Pembina PSI "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan

PARTAI Solidaritas Indonesia (PSI) akan segera meresmikan bergabungnya mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Dewan Pembina PSI. Bergabungnya Jokowi bersama PSI akan menjadi tantangan untuk memberikan dampak besar keuntungan elektoral kepada PSI, sekaligus akan menghadirkan dinamika politik yang cenderung akan memanas.

PSI tentu berharap kehadiran Jokowi akan menghadirkan persepsi publik dengan sentimen positif kepada PSI. Konsekuensinya PSI akan semakin terasosiasi dengan figur Jokowi dan keluarga Jokowi sekaligus warisan kinerja positif dari Jokowi sebagai mantan presiden ke-7 Indonesia kemarin. Singkatnya, PSI menginginkan penguatan elektabilitas dan daya tarik partai bagi pemilih yang masih memiliki tingkat kepuasan tinggi atas Jokowi.

Posisi Jokowi di PSI juga dapat menyatukan kekuatan politik jaringan loyalis Jokowi yang telah begitu setia bersama Jokowi dan Keluarga. Kehadiran figur Jokowi juga akan berisiko bagi PSI dalam membangun identitas politik yang mandiri, PSI akan dilabeli sebagai partai keluarga Jokowi.

Harapan yang besar terhadap Jokowi didasari oleh perspektif masih tingginya pengaruh politik Jokowi di kancah politik nasional meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden. Meski begitu, harapan PSI berbarengan pula dengan resiko yang akan menyertai dari kehadiran Jokowi di kepengurusan PSI.

Berbagai Resiko Kehadiran Jokowi

Bagi PSI bahwa Jokowi dalam pengaruh politiknya masih cukup tinggi. PSI amat yakni akan lolos ke parlemen Senayan dan dapat merangkak naik menjadi partai menengah. PSI ditengarai akan membidik para pemilih yang masih bersimpatik kepada Jokowi dengan harapan para pemilih akan memilih PSI, dan PSI juga berharap kelompok-kelompok pendukung Jokowi akan juga mendukung PSI selain tentunya bersama-sama mendorong Gibran dalam dinamika politik pemilihan umum presiden (Pilpres) tahun 2029 mendatang.

Baca Juga: Protes dan Kekecewaan Rakyat

Tak dimungkiri, resiko bergabungnya Jokowi bersama PSI akan berpotensi menyebabkan PSI dijadikan “musuh bersama” secara persepsi dari partai-partai politik lainnya. PSI sedang mempersiapkan diri dalam uji publik akan kemampuan partai untuk memanfaatkan efek ekor jas (coattail effect) dengan kehadiran Jolowi sekaligus mengukur penerimaan publik kepada PSI sebagai partainya keluarga Jokowi.

Memilih bersama Jokowi menunjukkan PSI telah mengabaikan kemandirian politik sebagai partai modern, PSI lebih memilih simbol tokoh meski usang ketimbang membangun kekuatan organisasi berdasarkan ideologi.

Pilihan PSI ini memungkinkan partai ini akan mengalami kondisi internal yang tidak solid. Potensi PSI terbelah dalam dua kubu memungkinkan terjadi antara kelompok oportunis yang mendukung dengan menilai bahwa Jokowi sebagai aset politik strategis yang dapat memperkuat legitimasi, memperluas jaringan politik dengan “perahu relawan Jokowi,” dan potensi peningkatan elektoral.

Tak menutup kemungkinan akan adanya kelompok pembaruan. Identitas mereka dibangun dengan dasar rasionalitas, yang menilai pengaruh politik Jokowi telah menurun, juga dominasi figur Jokowi berpotensi menggeser identitas asli PSI yang selama ini dibangun sebagai partai anak muda dengan citra independen dan progresif dalam gagasan serta citra partai tersebut.

Mereka juga khawatir ke depannya bahwa keputusan-keputusan strategis partai akan lebih banyak dikaitkan dengan strategi Jokowi dibandingkan proses kelembagaan internal. Kemasan kritik mereka adalah kehadiran Jokowi lebih banyak merugikan ketimbang keuntungan.  

Tak dimungkiri potensi internal akan terbelah menjadi dua kubu memungkinkan terjadi, realitasnya saat ini saja kondisi PSI sudah terbagi menjadi dua faksi yakni Faksi kader-kader murni dan faksi kader “kutu loncat” dari partai lain yang bergabung ke PSI atau orang-orang lama versus orang-orang baru.

Walaupun potensi konflik internal cenderung terbuka, ditengarai Jokowi dan Kaesang akan mengupayakan mayoritas elite dan kader PSI mendukungnya. Jokowi tentu saja akan menunjukkan kehadirannya dapat memberikan manfaat politik dan elektoral lebih besar daripada risikonya, sehingga perbedaan pandangan tersebut kemungkinan akan lebih banyak dikelola sebagai perdebatan internal ketimbang berkembang menjadi konflik terbuka.

Pro dan kontra berpotensi muncul adalah tantangan bagi Jokowi. Jika Jokowi dapat kelola dengan baik maka tidak akan berujung pada perpecahan. Jokowi ditengarai akan menguraikan kesepakatan dan kesepahaman mengenai peran dan batas pengaruh Jokowi di dalam struktur partai.

Meskipun potensi konflik terbuka bisa diredam, tetapi kemungkinan akan kader-kader murni yang kritis dan punya idealis yang menginginkan membangun partai modern, akan lebih memilih sikap untuk pindah ke partai lain, hal yang sama juga dapat terjadi kepada kader-kader rasional yang menilai pengaruh Jokowi tak bermanfaat besar bagi partai.  

Baca Juga: Korupsi, MBG, dan Harapan

Kehadiran Jokowi sebagai dewan pembina PSI juga ditengarai tidak langsung membuat PSI mengambil keputusan meninggalkan dukungan kepada Pemerintahan Prabowo Subianto. Dalam jangka pendek, PSI masih bersikap “menunggu dan melihat” dengan menimbang tetap berada pada koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran atau akan bersikap tegas dengan memilih berada di luar pemerintahan untuk mengusung Gibran sebagai calon presiden (capres). Pilihan tersebut memungkinkan PSI menunggu hasil safari politik Jokowi untuk mengukur elektabilitas PSI apakah terdongkrak atau ternyata stagnan.

Sikap PSI saat ini masih sama yakni menunggu pernyataan sikap resmi dari Jokowi untuk kepastian membersamai PSI, ini dibuktikan dengan prosesi Jokowi sebagai Dewan Pembina masih tidak jelas waktunya. Namun, pernyataan akan kehadiran Jokowi sebagai Dewan Pembina PSI, menguatkan spekulasi bahwa PSI akan menjadi kendaraan politik bagi kepentingan politik Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres mendatang.

Pilihan Jokowi untuk bersafari dan akan bergabung dengan PSI, adalah respons sikap yang kecewa karena wacananya mengajukan Prabowo-Gibran dua periode tidak gayung bersambut oleh Partai Gerindra, Prabowo, dan partai-partai koalisi pemerintahan. Sehingga ditengarai PSI, “perahu relawan Jokowi dan Gibran”, dan Jokowi akan berjuang agar elektabilitas dan posisi politik Gibran terus menguat menjelang Pemilu 2029.

PSI ditengarai berpotensi menjadi salah satu partai yang paling awal memberikan dukungan terhadap Gibran dalam karir politiknya ke depan. Tetapi, kiprah politik Gibran memang tetap bergantung kepada dinamika dukungan dari partai-partai politik lainnya. Sehingga saat ini, kenyataannya bahwa masa depan politik Gibran memang tergantung oleh peran dan pengaruh politik Jokowi. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga