Warga Kulati Wakatobi Soroti Proyek Jalan Desa Dete-Pantai Huntete, Sebut Perencanaan Tak Libatkan Masyarakat
Zulkifli Herman Tumangka, telisik indonesia
Senin, 30 Maret 2026
0 dilihat
Pantai Huntete, Desa Kulati, Kabupaten Wakatobi. Foto: instagram @amalhermawan
" Rencana pembangunan jalan yang menghubungkan Desa Dete menuju Pantai Huntete menuai sorotan dari masyarakat "


WAKATOBI, TELISIK.ID - Rencana pembangunan jalan yang menghubungkan Desa Dete menuju Pantai Huntete menuai sorotan dari masyarakat Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi.
Masyarakat menilai proyek tersebut tidak hanya bermasalah dari sisi perencanaan, tetapi juga mengabaikan aspirasi masyarakat yang terdampak langsung.
Salah satu warga, Sukirman Basra menegaskan, sejak awal masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam proses perencanaan. Ia menyebut tidak ada sosialisasi maupun musyawarah yang dilakukan sebelum rencana proyek mencuat.
“Kalau jalannya belum pernah ada, kenapa disebut rekonstruksi? Ini yang jadi pertanyaan masyarakat, apakah ada hal lain yang ingin dihindari seperti izin Amdal atau bagaimana,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Menurut Sukirman, penggunaan istilah “rekonstruksi” tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ia menegaskan bahwa jalur dari Dsa Dete menuju Pantai Huntete belum pernah ada sebelumnya, sehingga rencana tersebut dinilai sebagai pembukaan jalan baru, bukan perbaikan.
Baca Juga: Perbaikan Tiga Ruas Jalan di Lohia Muna Tuntas Tahun Ini
Selain itu, warga juga mempertanyakan alasan pemerintah memilih membuka jalur baru dari arah Desa Dete. Padahal, akses dari Desa Kulati menuju Pantai Huntete sudah tersedia dan selama ini digunakan oleh masyarakat.
“Jalur dari Kulati ke Huntete itu sudah ada dan dipakai. Kenapa harus buka jalur baru dari arah lain,” katanya.
Warga khawatir rencana tersebut berpotensi menimbulkan konflik wilayah, terutama terkait batas administrasi dan pengelolaan kawasan wisata yang berada di Desa Kulati. Tidak hanya itu, proyek ini juga dinilai dapat berdampak pada sumber daya alam di wilayah mereka.
“Jangan sampai ini berkaitan dengan pengambilan sumber daya alam seperti pasir, batu, kayu, atau lahan masyarakat,” tambah Sukirman.
Sementara itu, Kepala Desa Kulati, La Ode Burhanuddin turut mengakui bahwa mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan proyek tersebut. Ia menyebut pihaknya bahkan telah meminta agar pemerintah daerah turun langsung menemui masyarakat, namun belum ada tindak lanjut.
“Masyarakat dan pemerintah desa kami tidak dilibatkan dalam perencanaan ini. Kami sudah sampaikan agar ada pertemuan langsung dengan masyarakat, tapi belum ada tindak lanjutnya,” ungkapnya kepada telisik.id melalui sambungan telepon.
Burhanuddin juga menegaskan, masyarakat bukan menolak pembangunan, melainkan menginginkan perbaikan jalan yang sudah ada.
“Yang masyarakat inginkan itu bukan pembangunan jalan baru, melainkan memperbaiki jalan yang sudah ada,” tegasnya.
Selain itu, pembukaan jalur baru dikhawatirkan berdampak pada pendapatan desa dari akses wisata yang berada di wilayah Desa Kulati.
Baca Juga: Pemkot Baubau Segera Kerjakan 10 Proyek Strategis 2026, Warga Minta Perbaikan Jalan Rusak
“Ini bisa berdampak pada pendapatan desa kami, karena selama ini ada pemasukan dari portal menuju lokasi wisata yang berada di wilayah Kulati,” tambahnya.
Lebih lanjut, pemerintah desa menyebut rencana ini merupakan kali kedua mencuat. Sebelumnya, rencana serupa sempat ditolak warga hingga tidak dilanjutkan.
Dengan penolakan yang kembali menguat, masyarakat berharap pemerintah daerah membuka ruang dialog dan meninjau ulang rencana tersebut dengan melibatkan warga secara langsung, agar pembangunan yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari. (B)
Penulis: Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS