Bukan Kota Makin Bahaya, Konselor Ini Beber Alasan Kasus HIV di Kendari Terus Bertambah

Erni Yanti, telisik indonesia
Jumat, 04 September 2026
0 dilihat
Bukan Kota Makin Bahaya, Konselor Ini Beber Alasan Kasus HIV di Kendari Terus Bertambah
Konselor HIV sekaligus Koordinator Pendamping HIV Sulawesi Tenggara, Samsu Appe saat diwawancarai. Foto: Erni Yanti/Telisik

" Sebanyak 147 kasus HIV ditemukan di Kota Kendari "

KENDARI, TELISIK.ID - Sebanyak 147 kasus HIV ditemukan di Kota Kendari. Temuan tersebut muncul setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 8.000 orang yang masuk dalam kelompok berisiko.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan HIV di Kota Kendari semakin masif. Namun, tingginya angka kasus yang ditemukan tidak serta-merta berarti penularan HIV semakin meningkat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Ellfi mengatakan, pemeriksaan dan deteksi dini terus diperluas untuk menemukan kasus HIV sedini mungkin sekaligus mencegah penularan lebih lanjut.

Dari 147 kasus yang ditemukan, sebanyak 121 kasus merupakan laki-laki dan 26 kasus perempuan. Berdasarkan kelompok usia, kasus terbanyak berada pada rentang 25-49 tahun dengan jumlah 82 kasus.

Di tengah upaya memperluas deteksi, Dinkes Kota Kendari juga menemukan tiga kasus HIV pada balita yang diduga tertular dari ibu saat masa kehamilan.

Ellfi mengatakan, pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi harus dimulai sejak masa kehamilan.

“Untuk anak ini sebenarnya sudah kami sasar dari ibu hamilnya. Tidak boleh ada ibu hamil di Kendari yang tidak mengetahui status HIV-nya,” kata Ellfi, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, ibu hamil yang mengetahui status HIV sejak dini dapat segera mendapatkan pengobatan dan langkah pencegahan sehingga risiko penularan kepada bayi dapat ditekan.

Dinkes juga telah menemukan sejumlah ibu hamil dengan HIV yang mendapatkan pengobatan dan berhasil melahirkan bayi yang tidak terinfeksi.

Namun, Ellfi mengakui masih terdapat sejumlah kendala. Sebagian ibu hamil tidak mengakses layanan kesehatan selama kehamilan atau memilih menyembunyikan status kesehatannya.

“Biasanya ketahuan saat akan melahirkan. Ada yang tidak pernah datang ke layanan kesehatan selama kehamilan atau bisa juga menyembunyikan status HIV-nya,” ujarnya.

Konselor HIV sekaligus Koordinator Pendampingan HIV Sulawesi Tenggara (Sultra), Samsu Appe menyebut, peningkatan temuan kasus salah satunya dipengaruhi semakin masifnya pemeriksaan atau screening HIV.

Menurut Samsu, screening kini tidak hanya dilakukan di puskesmas dan rumah sakit, tetapi juga menyasar kelompok berisiko di berbagai lokasi dengan melibatkan petugas lapangan dan LSM.

“Dengan banyaknya screening yang dilakukan oleh semua layanan, puskesmas, rumah sakit swasta, rumah sakit, penemuan kasus juga semakin tinggi. Tapi kalau tidak dilakukan screening, tidak akan diketahui. Justru itu lebih parah sebenarnya,” kata Samsu.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menjalani pemeriksaan, semakin besar pula peluang kasus HIV yang sebelumnya tidak diketahui dapat ditemukan.

Samsu menjelaskan, upaya menemukan kasus HIV kini dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Petugas bersama LSM dan pendamping lapangan mendatangi kelompok sasaran untuk memberikan edukasi sekaligus menawarkan pemeriksaan.

Bahkan, terdapat perusahaan dan sejumlah tempat usaha yang secara sukarela meminta dilakukan screening terhadap karyawan atau anggotanya.

Menurut Samsu, langkah tersebut membantu masyarakat melakukan pemeriksaan di lokasi yang dianggap lebih nyaman dan aman.

“Kalau tidak mau di situ, kita carikan tempat yang nyaman. Kita jemput bola. Tidak perlu ke rumah sakit,” jelasnya.

Baca Juga: Homoseksual Dominasi Kasus HIV AIDS di Sulawesi Tenggara, Pengidap Capai 123 Sejak Januari-Maret 2026

Dinkes Kota Kendari juga menerapkan pendekatan serupa dengan menggandeng pihak eksternal yang memiliki akses lebih dekat kepada kelompok sasaran.

Samsu mengatakan, kerja sama tersebut membantu petugas menemukan kasus HIV lebih cepat.

“Kalau kami dibantu pihak-pihak yang bisa mendekatkan dengan sasaran, insyaallah pelaksanaannya akan lebih mudah. Alhamdulillah, kami sudah berprogres,” katanya.

Samsu menegaskan, HIV saat ini bukan penyakit yang membuat seseorang harus diasingkan. HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui pengobatan.

ODHIV yang patuh mengonsumsi obat dan mengikuti aturan pengobatan tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Kenapa harus diasingkan? Ini penyakit sama seperti sakit-sakit lainnya. Jantung minum obat seumur hidup, hepatitis begitu juga,” ujarnya.

Ia juga meminta dunia kerja tidak melakukan diskriminasi terhadap ODHIV. Menurutnya, masih ada kasus seseorang kehilangan pekerjaan setelah status HIV-nya diketahui.

Padahal, alasan yang digunakan terkadang hanya dijadikan alibi untuk mengeluarkan pekerja tersebut.

“Jangan sampai ada lagi yang dikeluarkan karena status HIV-nya dari pekerjaannya,” tegas Samsu.

Bagi Samsu, tantangan penanganan HIV bukan hanya persoalan medis, tetapi juga stigma dan diskriminasi. Tekanan dari lingkungan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien dan berpotensi mengganggu kepatuhan terhadap pengobatan.

Karena itu, ia meminta masyarakat memahami bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari. Penularan HIV terjadi melalui jalur tertentu, seperti hubungan seksual berisiko, transfusi darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu dengan HIV kepada bayinya.

Ia juga mengingatkan bahwa screening bukan merupakan diagnosis akhir. Pemeriksaan awal bertujuan menemukan orang yang perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan, sementara penegakan diagnosis dilakukan pada layanan yang memiliki kewenangan.

Samsu mengatakan, pendampingan menjadi bagian penting dalam memastikan ODHIV tetap menjalani pengobatan.

Sebab, tidak semua pasien nyaman menceritakan persoalan pribadi secara langsung kepada dokter. Pendamping membantu menjembatani pasien dengan tenaga medis sekaligus memberikan dukungan psikososial.

Baca Juga: Dinkes Wakatobi Upayakan Perluasan Layanan Pengobatan HIV ke Puskesmas Pulau

Ia mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk dunia kerja, keluarga, komunitas, LSM dan masyarakat.

“Harapan saya ada kegiatan yang edukatif, bermanfaat dan betul-betul mengenai tempat sasaran,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pemeriksaan HIV dapat dilakukan secara gratis. Seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Kendari telah dapat memberikan layanan pemeriksaan atau deteksi dini HIV.

Untuk pengobatan, terdapat tujuh fasilitas layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP), yakni Puskesmas Perumnas, Puskesmas Lepolepo, Puskesmas Kemaraya, Puskesmas Poasia, RSUD Kota Kendari, RSUD Bahteramas, dan RS Santa Anna. (B)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Kardin

Baca Juga