Cerita Eks Pramugari Alih Profesi jadi PSK, Ngaku Main 2 Jam Dibayar Rp 2 Juta
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 11 Januari 2026
0 dilihat
Ilustrasi, mantan pramugari beralih profesi demi bertahan hidup. Foto: Repro Pinterest.
" Pandemi Covid-19 meninggalkan jejak panjang pada perekonomian banyak orang "

JAKARTA, TELISIK.ID - Kala itu, pandemi Covid-19 memaksa Vita, mantan pramugari berusia 22 tahun, beralih profesi menjadi pekerja seks (PSK) daring setelah larangan terbang memutus penghasilan rutinnya selama masa krisis ekonomi.
Pandemi Covid-19 meninggalkan jejak panjang pada perekonomian banyak orang, termasuk mereka yang sebelumnya bekerja di sektor jasa penerbangan. Vita, bukan nama sebenarnya, adalah satu di antara pekerja yang terdampak langsung ketika kebijakan pembatasan perjalanan membuat aktivitas penerbangan nyaris berhenti total.
Sebelum pandemi, ia bekerja sebagai pramugari dengan jadwal terbang padat dan penghasilan tetap setiap bulan.
Larangan terbang membuat maskapai mengurangi frekuensi penerbangan, bahkan menghentikan sementara sebagian kru kabin. Bagi Vita, kondisi itu berarti kehilangan pemasukan utama, sementara kebutuhan hidup sehari-hari tetap berjalan.
Tabungan perlahan menipis, sedangkan kepastian kapan bisa kembali bekerja tak kunjung jelas. Dari situ, ia mulai mencari alternatif penghasilan lain yang dinilai mampu menutup kebutuhan hidupnya.
Baca Juga: Mistik: Cerita Horor Penjaga Makam Tak Percaya Gaib, Justru Diteror Sosok Perempuan Berkebaya saat Bermalam
Pilihan itu membawanya ke dunia pekerja seks komersial berbasis daring. Status sebagai mantan pramugari, menurut Vita, justru membuatnya memiliki daya tarik tersendiri di mata calon pelanggan. Ia mengaku diposisikan sebagai pekerja seks eksklusif dengan tarif yang relatif tinggi dibandingkan kebanyakan pekerja sejenis.
“Sekali kencan dibayar Rp2 juta dengan durasi maksimal dua jam. Itu sudah tarif paling rendah,” ujarnya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, seperti dikutip dari iNews, Minggu (11/1/2026).
Vita menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi pendapatannya sebelum dan selama pandemi. Saat masih aktif terbang, ia bisa membawa pulang belasan juta rupiah setiap bulan.
Namun, ketika pandemi melanda, penghasilan itu menyusut drastis.
“Uangnya jauh lebih cepat dapat. Kalau dulu masih terbang tidak seberapa, apalagi pandemi begini. Bisa-bisa pendapatan saya hanya seperempat dari normal,” katanya.
Ia juga mengisahkan bahwa pengalamannya di dunia penerbangan sempat membuka jalan sebelum pandemi.
Pada 2018, ketika singgah di salah satu kota di Kalimantan, Vita bertemu teman sekolahnya yang bekerja di perusahaan tambang. Dalam pertemuan itu, ia sempat menawarkan jasanya kepada atasan temannya tersebut. Kesepakatan tercapai, dan ia menerima bayaran Rp 5 juta untuk dua kali pertemuan dengan durasi sekitar tiga jam.
Sejak pengalaman itu, Vita kerap diminta temannya untuk dikenalkan kepada sejumlah relasi lain saat ia singgah di Kalimantan. Jaringan tersebut kemudian berkembang, terlebih setelah ia tidak lagi aktif sebagai pramugari. Pelanggannya tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah, mulai dari Sulawesi, Ambon, hingga Papua.
Baca Juga: Tersentuh Keimanan Warga Gaza, Perawat Amerika Serikat Putuskan Mualaf
“Kalau terbang ke daerah sambil melayani, sekalian buka jaringan,” ucapnya.
Dengan penghasilan yang dinilai mencukupi dan relatif mudah diperoleh, Vita mengaku belum memikirkan rencana berkeluarga. Menurutnya, kebutuhan perawatan diri dan gaya hidup membuatnya belum ingin mengambil keputusan besar.
“Selera saya tinggi, perawatan tubuh juga tidak murah,” katanya. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS