Mistik: Cerita Horor Penjaga Makam Tak Percaya Gaib, Justru Diteror Sosok Perempuan Berkebaya saat Bermalam
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 08 Januari 2026
0 dilihat
Jarwo, penjaga makam, menceritakan pengalaman melihat perempuan berkebaya dan mendengar suara anak-anak saat bertugas malam. Foto: Repro Kompas.
" Di balik rindangnya kamboja dan batu nisan tua Surabaya, Jarwo menjalani tiga puluh tahun sebagai penjaga makam, menyimpan kisah mistis tanpa pernah menggantungkan hidup pada rasa takut "

SURABAYA, TELISIK.ID - Di balik rindangnya kamboja dan batu nisan tua Surabaya, Jarwo menjalani tiga puluh tahun sebagai penjaga makam, menyimpan kisah mistis tanpa pernah menggantungkan hidup pada rasa takut.
Pemakaman kerap dilekatkan dengan kesan sunyi, gelap, dan menakutkan. Banyak orang hanya datang untuk berziarah, lalu pergi sebelum senja. Namun bagi Jarwo, penjaga makam Mbah Ratu di Surabaya, tempat itu justru menjadi ruang hidup yang dijalaninya setiap hari selama tiga dekade terakhir.
Di tengah stigma horor yang kerap menyertai profesinya, Jarwo memilih bertahan dengan keyakinan sederhana dan kerja rutin yang dijalaninya tanpa banyak keluhan.
Jarwo, kini berusia 55 tahun, telah menjaga kawasan pemakaman Mbah Ratu sejak tiga puluh tahun lalu. Upah yang diterimanya terbilang kecil, sekitar Rp 50.000, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja.
Baginya, pemakaman bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan sumber penghidupan yang halal untuk menafkahi keluarga.
Cerita mistis di area pemakaman kerap beredar dari mulut ke mulut. Mulai dari penampakan, suara-suara aneh, hingga kisah gangguan gaib yang membuat sebagian orang enggan berlama-lama. Namun Jarwo mengaku tidak mudah percaya pada cerita semacam itu jika hanya sebatas omongan.
“Kalau hanya orang yang ngomong saya enggak percaya. Saya belum percaya kalau enggak mengalami langsung,” kata Jarwo, seperti dikutip dari Kompas, Kamis (8/1/2026).
Rasa penasaran justru mendorongnya untuk membuktikan sendiri. Jarwo pernah dengan sengaja tidur di area makam pada malam hari. Ia ingin mengetahui apakah cerita-cerita horor yang sering didengarnya benar adanya
Baca Juga: Tersentuh Keimanan Warga Gaza, Perawat Amerika Serikat Putuskan Mualaf
“Saya pernah memang sengaja tidur di sini malam-malam karena penasaran,” ujarnya.
Dalam kondisi setengah sadar, ia mengaku sempat melihat sosok menyerupai manusia biasa.
“Memang benar ada penampakan, tapi wujudnya seperti manusia biasa, enggak seram. Waktu saya buka mata, sudah hilang,” tuturnya.
Pengalaman tersebut bukan satu-satunya. Jarwo menyebut pernah melihat sosok perempuan berkebaya, pria dewasa, hingga mendengar suara anak-anak berlarian di sekitar makam. Meski begitu, ia menegaskan tidak pernah merasa diganggu secara langsung.
“Banyak, pernah lihat cewek cantik pakai kebaya atau dengar suara anak-anak lari. Tapi untungnya mereka enggak pernah sampai mengganggu,” katanya.
Salah satu kejadian yang masih membekas terjadi saat ia tidur siang di dekat pohon pisang yang tumbuh di antara batu nisan. Tikar yang digunakannya tiba-tiba tertarik hingga ia terbangun.
“Saya kaget, merinding juga, terus saya anggap mungkin itu pertanda kalau saya enggak boleh tidur di situ,” ucap Jarwo.
Meski mengaku merinding, ia selalu berusaha menenangkan diri. “Kalau merinding pasti iya, tapi saya mantapkan hati, percaya iman saya saja kalau Allah masih di atas segalanya,” ujarnya.
Pengalaman lain yang membuatnya berpikir panjang adalah ketika ia membawa pulang tikar milik salah satu pelayat. Tak lama kemudian, kakaknya mendadak sakit dengan demam tinggi. Jarwo mengaku memiliki firasat tertentu.
“Saya merasa tikar itu punya energi negatif, akhirnya saya buang. Setelah itu kakak saya langsung sembuh,” katanya.
Di luar kisah-kisah tersebut, keseharian Jarwo di makam diisi dengan pekerjaan fisik. Ia membersihkan batu nisan, mencabuti rumput liar, serta mengangkut sampah di area pemakaman.
Pekerjaan itu biasanya dilakukan sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Tidak semua makam dibersihkan, hanya makam yang memang diminta pemilik atau keluarga untuk dirawat secara rutin.
Saat musim hujan, beban kerjanya bertambah. Kawasan pemakaman kerap dilanda banjir meski ketinggian air hanya sebatas mata kaki. Endapan lumpur dan sampah membuatnya harus bekerja lebih ekstra.
“Sekarang banjirnya cepat surut, paling sehari. Kalau dulu bisa sampai seminggu,” kata Jarwo.
Sebelum menetap sebagai penjaga makam, Jarwo sempat mencoba berbagai pekerjaan lain. Ia pernah menjadi buruh pabrik, satpam, hingga pengemudi ojek online. Namun tak satu pun bertahan lama.
Baca Juga: Mistik: Cerita Mencekam Warga Diteror Parakang yang Berubah jadi Kucing Rambut Panjang
“Paling kerasan ya kerja di sini karena jamnya fleksibel, enggak terikat, bebas,” ujarnya.
Ia juga sempat mengalami kecelakaan saat menjadi pengemudi ojek online hingga tidak bisa berjalan selama empat bulan, disusul pandemi Covid-19 yang membuat pekerjaannya terhenti total.
Meski merasa nyaman dengan profesinya saat ini, Jarwo menyimpan harapan lain untuk masa depan keluarganya. Ia berharap kedua putrinya kelak bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan cita-cita mereka.
“Harapan saya juga ada bantuan dari pemerintah untuk memperluas lapangan pekerjaan, supaya generasi selanjutnya cari kerja enggak susah,” tutupnya. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS