Rupiah Perkasa Hampir 1 Persen dalam Sepekan, Berikut Pemicunya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Senin, 15 Juni 2026
0 dilihat
Rupiah menguat hampir satu persen sepekan terakhir ditopang modal asing dan kebijakan BI. Foto: Repro Espos
" Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan sepanjang sepekan terakhir "

JAKARTA, TELISIK.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan sepanjang sepekan terakhir.
Sentimen positif dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan kembali masuknya aliran modal asing menjadi faktor utama yang menopang pergerakan mata uang Garuda.
Data Bloomberg mencatat, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026). Posisi tersebut menguat 0,72 persen atau 129 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.989 per dolar AS.
Secara mingguan, rupiah menguat 0,98 persen dari posisi Rp18.036 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga menguat 1,38 persen.
Pergerakan rupiah sepanjang pekan terbilang positif. Pada Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah masih berada di level Rp18.171 per dolar AS dan kemudian menguat menjadi Rp17.921 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: 2 Jurus Maut Purbaya dan BI Perkuat Rupiah Jebol ke Dolar AS
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai penguatan rupiah ditopang oleh kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut dinilai memberikan sentimen positif terhadap instrumen investasi di Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), investor asing membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp287 miliar. Selain itu, survei Bloomberg menunjukkan Bank Indonesia masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini.
Jika kenaikan suku bunga tersebut terealisasi, kebijakan itu diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi peningkatan pendapatan bunga sektor perbankan sekaligus menjaga daya tarik aset keuangan domestik.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dari sebelumnya 5,25 persen pada Selasa (9/6/2026).
Di sisi lain, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh prospek ekonomi Indonesia yang masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga: Rupiah Jebol Rp 18.000 per Dolar AS, Berikut 7 Pemicunya
Hal tersebut tercermin dari keputusan Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Proyeksi terbaru itu lebih tinggi dibandingkan estimasi pada April lalu yang mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen.
"Proyeksi sebesar 5,0 persen untuk tahun ini mencerminkan kinerja perekonomian pada kuartal I-2026 yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya," ujar Ibrahim, seperti dikutip dari Kompas, Senin (15/6/2026).
Penguatan rupiah dalam sepekan terakhir menunjukkan sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga. Arus modal asing yang kembali masuk dan membaiknya proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan mata uang domestik pada pekan mendatang. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS